<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Bersamaku Menuju Pencerahan</title>
	<link>http://pamanahrasa.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 01:39:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Saat Bersama Sesosok Malaikat</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/07/13/saat-bersama-sesosok-malaikat/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/07/13/saat-bersama-sesosok-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 01:34:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
	<category>Kreasi Puisi</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/07/13/saat-bersama-sesosok-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Satu hari dari serpihan seribu mimpi
aku bertemu denganmu
di sebuah tempat menurut kata sepakat
berbingkai sore menuju malam
bertirai air yang tercurah lebat dari langit
hingga kita berdua terjebak terperangkap
di antara ruang dan irama merdu gemuruh hujan 
	Dua gelas coklat hangat
tak mampu membuyarkan pikiranku tentangmu
pada jarak yang teramat dekat
dengan leluasa aku menguliti wujudmu yang telanjang
hingga tak sadarkan diri
terbius aroma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/kekasih1.jpg' alt='' /></p>
	<p><strong>Satu hari dari serpihan seribu mimpi<br />
aku bertemu denganmu<br />
di sebuah tempat menurut kata sepakat<br />
berbingkai sore menuju malam<br />
bertirai air yang tercurah lebat dari langit<br />
hingga kita berdua terjebak terperangkap<br />
di antara ruang dan irama merdu gemuruh hujan </p>
	<p>Dua gelas coklat hangat<br />
tak mampu membuyarkan pikiranku tentangmu<br />
pada jarak yang teramat dekat<br />
dengan leluasa aku menguliti wujudmu yang telanjang<br />
hingga tak sadarkan diri<br />
terbius aroma sedap keringat dari tubuhmu</p>
	<p>Dalam kehilangan ingatanku dirampas pesonamu<br />
hati begitu berharap<br />
jarum jam bergulir merayap<br />
agar diri bisa lebih menghayati kehadiran<br />
sesosok malaikat yang tengah melebarkan sayap<br />
sebagai tanda merengkuhku dalam gelap</p>
	<p>Dan Sang Waktu<br />
merubah semua ini menjadi candu!</p>
	<p></strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/07/13/saat-bersama-sesosok-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Hari Ini</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/21/potret-hari-ini/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/21/potret-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 01:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Focus</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/21/potret-hari-ini/</guid>
		<description><![CDATA[	
Murung
	
Mawar di Tengah Pasar
	
Astrajingga Mencoba Jadi Caleg
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/Murung.JPG' alt='' /><br />
<strong>Murung</strong></p>
	<p><img src='/images/Mawarditengahpasar_01.jpg' alt='' /><br />
<strong>Mawar di Tengah Pasar</strong></p>
	<p><img src='/images/astrajingga2_01.jpg' alt='' /><br />
<strong>Astrajingga Mencoba Jadi Caleg</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/21/potret-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mengendalikan Pasar, Mencari &#8220;Guru Negara&#8221;</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/20/mengendalikan-pasar-mencari-guru-negara/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/20/mengendalikan-pasar-mencari-guru-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 04:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Artikel Tamu</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/20/mengendalikan-pasar-mencari-guru-negara/</guid>
		<description><![CDATA[	Oleh Iwan Gunawan
	22 Maret 2009 jam 17:43
“Kelangkaan bukan hanya disebabkan alam, tapi juga manusia.
Dan ilmu ekonomi tidak hanya bersangkut paut dengan alam sekelilingnya, tapi juga dengan selera konsumsi
manusia dan kesanggupannya berproduksi”
(Robert. L. Heilbroner; The Making of Economic Society)
	Sistem ekonomi pasar yang diagungkan dapat membina rasionalitas, ternyata telah menciptakan bangsa ini semakin dekat dengan apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Oleh Iwan Gunawan</strong></p>
	<p>22 Maret 2009 jam 17:43<br />
“Kelangkaan bukan hanya disebabkan alam, tapi juga manusia.<br />
Dan ilmu ekonomi tidak hanya bersangkut paut dengan alam sekelilingnya, tapi juga dengan selera konsumsi<br />
manusia dan kesanggupannya berproduksi”<br />
(Robert. L. Heilbroner; The Making of Economic Society)</p>
	<p>Sistem ekonomi pasar yang diagungkan dapat membina rasionalitas, ternyata telah menciptakan bangsa ini semakin dekat dengan apa yang diangankan (desire) namun semakin jauh dari apa yang dibutuhkan (need). Memicu irasionalitas dalam berkonsumsi. Menciptakan gejolak melalui hadirnya benda-benda produk asing yang menawarkan pemuasan keinginan. Membiak melalui sentra-sentra perbelanjaan di desa dan di kota pelosok nusantara . Sementara kebutuhan bahan pokok kini langka di peredaran permintaan rakyat banyak .</p>
	<p>Kelaparan tumbuh mengiris hati berdampingan dengan kemewahan yang menjadi . Gambaran ekonomi (anggaran rumah tangga) negara yang sedang timpang (defisit). Negara yang besar pasak daripada tiang. Pasak yang mewah dimiliki segelintir orang dimana tiang sandang, pangan dan papan hanya menjadi impian bagi para pengemis dan gelandangan. Bisakah pasar dikendalikan oleh negara yang menjadi rumah warganya ? Mungkinkah para gelandangan lapar kembali menghuni rumah tinggalnya ? Bisakah pasak-pasak kemewahan menegakkan kembali tiang-tiang rumah mereka yang kini hidup bergerombol di jalanan ? Dan dapatkah irasionalitas dalam pasar digeser oleh rasionalitas negara agar lahir kebijakan obyektif dimana orang banyak bisa hidup sejahtera ? </p>
	<p>Konsumerisme kini tumbuh di dalam kehidupan pasar. Terdorong oleh pemenuhan keinginan yang melampaui dari apa yang dibutuhkan. Pemilikan benda-benda yang diangankan lebih memberikan kepuasan atas pemenuhan barang-barang pokok yang dibutuhkan. Bentuk keinginan berlebihan yang disebabkan tuntutan egoisme menuju realitas ekonomi yang sakit. Mengabaikan pemenuhan kebutuhan wajar dan kolektif bagi tumbuhnya ekonomi yang sehat. Tercetus oleh spontanitas iklan untuk meraih untung menggelembung. Mengorbankan tuntutan permanen atas barang-barang pokok yang dibutuhkan. Bentuk eksploitasi atas angan-angan konsumen yang menimbulkan banyak kefrustasian. Pasar melalui irasionalitas yang dikandungnya telah merusak organ ekonomi bangsa dengan menyumbat kemajuan penyaluran kebutuhan bagi rakyat yang belum sejahtera. <a id="more-167"></a></p>
	<p>Sifat pengrusakan dari pemenuhan angan-angan yang demikian telah menciptakan perilaku korup . Menyusutkan rasa optimis untuk maju karena hidup dihadapkan pada kesulitan dalam usaha pemenuhan kebutuhan. Sementara laba berlipat ganda dikantungi kaum asing dengan pesta pora karena penciptaan atas impian yang melenakan. Disaat tak terpenuhinya kebutuhan meski sekedar untuk melangsungkan kehidupan. Inilah gejala dimana manusia tidak berdaya atas pemilikan uang yang menjadi nadi dari kehidupan pasar. Karenanya, hanya melalui upaya pengendalian pemanfaatan uang atas warganya, pasar untuk pemenuhan kebutuhan dapat memberikan kesejahteraan. </p>
	<p>***<br />
Ekonomi nasional yang sehat adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan rakyat secara keseluruhan yang disertai dengan terkendalinya dorongan atas pemenuhan keinginan yang berlebihan. Melalui ekonomi yang sehat itulah suatu bangsa dapat melakukan percepatan pertambahan akumulasi modal keuangan demi peningkatan produktifitas. </p>
	<p>Dengan demikian, pertambahan akumulasi modal merupakan bentuk akibat dari semakin tumbuhnya sikap asketis di kalangan warga negara, yaitu sikap berjuang melalui pengendalian diri dari kemalasan dan keinginan di luar kebutuhan. Dan peningkatan produktifitas disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah yang bertanggung jawab (responsible) atas pemenuhan kebutuhan rakyat. Bijak dalam arti selalu memenuhi kebutuhan secara wajar dengan waspada terhadap kemungkinan terjadinya kesengsaraan. Melalui pencapaian itulah rasa tanggungjawab warga negara terbina. Dimana rakyat berupaya untuk selalu menciptakan pertambahan akumulasi modal bagi pemilikan melalui peningkatan produktifitasnya. Dan tanpa adanya tanggung jawab rakyat demikian, tindakan (kebijakan) pemerintah menjadi sia-sia. Disebabkan biaya (anggaran) pemenuhan kebutuhan rakyat bersumber dari roda keuangan rumah tangga dari negara yang dihuninya. </p>
	<p>Tingginya bantuan dan hutang luar negeri merupakan bukti dari lemahnya kerjasama antara pemerintah dan rakyat, sekaligus menunjukan rendahnya kemandirian diantara keduanya . Oleh karena itu, kerjasama dan kemandirian diantara pemerintah dan rakyat harus selalu diupayakan. Kemandirian negara ditegakkan melalui upaya oposisi politik dari rakyat untuk mengontrol kegiatan pemerintah sejalan dengan konstitusi. Dan kerjasama ditumbuhkan melalui sikap patuh atas hukum untuk menjamin terlaksananya tujuan bernegara . </p>
	<p>Upaya oposisi menjadi sumber dinamika perubahan politik bagi lahirnya kebijakan negara kearah yang lebih obyektif , dan sikap untuk mematuhi hukum menjadi sumber perekat antara rakyat dan pemerintah dalam menjalankan tanggungjawabnya. Dengan demikian, kepatuhan terhadap hukum merupakan tiang bagi terjaminnya rasa keadilan di kalangan warga negara, elemen sosial, partai politik, serta kelembagaan negara. Dan oposisi politik menjadi motor penggerak yang memotivasi penciptaan kebijakan inovatif untuk memenuhi tuntutan obyektif kehidupan rakyat. Oleh karena itu, oposisi dalam politik dan kepatuhan terhadap hukum di dalam kehidupan bernegara menjadi kebutuhan paling dasar dalam melahirkan kebijakan yang adil bagi kesejahteraan rakyat. </p>
	<p>Obyektivitas dengan sendirinya harus menjadi sumber dari rasa tanggungjawab dalam penentuan kebijakan bernegara . Dimana pada satu sisi dapat memperkukuh rasa kebangsaan yang berakibat dengan semakin tingginya motivasi rakyat untuk berprestasi. Dan pada sisi lain dapat mengurangi tingkat ketergantungan terhadap dunia luar yang ditandai dengan semakin berkurangnya bantuan dan pinjaman luar negeri.</p>
	<p>***<br />
Pemuasan keinginan pribadi tanpa pertimbangan akan terpenuhinya kebutuhan bersama, merupakan perilaku despotik yang menjatuhkan dedikasi. Pemenuhan kebutuhan bersama tanpa keinginan pribadi untuk maju merupakan perilaku subsisten yang menciptakan kesengsaraan berkepanjangan. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan bersama harus menjadi batas kewajaran dari tujuan kemajuan setiap pribadi dalam mendapatkan kepuasan. Dan kepuasan pribadi harus menjadi tujuan dari pemenuhan kebutuhan bersama agar mendorong penciptaan kegiatan produktif. Oleh karena itu, agar terhindar dari perilaku despotik dan subsisten diperlukan sikap asketis dalam hidup warga negara.</p>
	<p>Sikap asketis merupakan bentuk pengendalian diri terhadap dorongan wajar atas keinginan untuk maju dalam mendapatkan kebutuhan. Penghindaran terhadap ekonomi subsisten dilakukan melalui asketisme duniawi yakni berjuang melalui kerja keras untuk meraih kemajuan pemilikan material (alat produksi). Dan penghindaran ekonomi despotik dilaksanakan melalui asketisme ukhrowi yaitu menunda kesenangan dengan mengasihi rakyat yang kekurangan untuk membina spirit hidup bersama (pajak/zakat, menabung dan sidqah jaariyah). </p>
	<p>Tanpa sikap asketik roda perputaran ekonomi menjadi stagnan dan mekanik. Bentuk perputaran yang hanya tergerak oleh adanya bantuan dan pinjaman dari bangsa asing. Cermin dari organ-organ negara yang menjadi sumber daya bangsa hanya bertindak demi enaknya sendiri. Karenanya stagnasi dan mekanisasi ekonomi negara merupakan bentuk kehidupan yang diliputi oleh semakin banyak orang termotivasi oleh kepentingan pribadi semata. Pangkal kehancuran yang bersumber dari sikap egois dengan menanggalkan kenyataan hidup bersama . </p>
	<p>Itulah gejala yang kian nyata dari irasionalitas berkonsumsi, merasuk dalam perekonomian bangsa. Padahal, perekonomian bangsa yang dikenal dengan sebutan koperasi telah bertahun-tahun diperjuangkan dengan bersandar pada organ-organ kerakyatan. Namun kini sokoguru ekonomi bangsa ini hidupnya masih bagai Umar Bakrie. Membina kepentingan bersama tapi tersisihkan nasibnya oleh kebijakan yang tidak adil, pengalaman yang harus menjadi pelajaran . Bukti dimana dalam perjuangannya lebih banyak orang yang masih mengedepankan kepentingan pribadi daripada kebersamaan. Bekerjasama dengan pemerintah (melalui menteri KUKM, dll), namun mengingkari adanya tuntutan akan perubahan kebijakan dari oposisi rakyat yang membutuhkan keadilan. </p>
	<p>Nampaknya, kita harus segera menghadirkan “Guru Negara” setelah para “Guru Bangsa” semakin udzur. Guru yang membimbing untuk hidup tekun, rajin, hemat, kerja keras, jujur dan mengasihi sesama. Serta membimbing untuk menjadi manusia unggul dalam hidup berkompetisi. Seorang pembina yang disegani dalam memajukan kemandirian dan teladan yang dipatuhi dalam hidup bekerjasama. Pro-aktif dalam memperkuat kemandirian dan memperat kerjasama. Dengan usaha yang senantiasa berpijak pada tuntutan yang rasional dan kebutuhan obyektif demi mendapat surplus ekonomi. </p>
	<p>Zaman telah berganti dari kebutuhan membangun rasa persatuan berbangsa menjadi tuntutan untuk memajukan hidup warga negara. Ruh kebangsaan kini menuntut raganya agar menjelma bukan hanya menjadi bangsa yang merdeka tapi juga negara yang sejahtera. Demikiankah maksud dari pengorbanan para pahlawan dan pendirian Bapak Bangsa berjuang melawan penjajahan merebut kemerdekaan ? Aset yang diwariskan untuk menegakan kehormatan rakyat melalui upaya peningkatan derajat kesejahteraan yang bermartabat. </p>
	<p>***<br />
(Matraman Jakarta, 9 Nopember 2007) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/20/mengendalikan-pasar-mencari-guru-negara/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Replika Gajahku</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/16/dunia-replika-gajahku/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/16/dunia-replika-gajahku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 04:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Focus</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/16/dunia-replika-gajahku/</guid>
		<description><![CDATA[	
Gajah_Mungil
	
Gajah_Imut

	
Gajah_Kembar
	
Gajah_Batik
	
Keluarga Gajah Batik
	
Gajah_Gantung

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/gajahmungil.JPG' alt='' /><br />
<strong>Gajah_Mungil</strong></p>
	<p><img src='/images/gajahimut.JPG' alt='' /><br />
<strong>Gajah_Imut</strong><br />
<a id="more-166"></a></p>
	<p><img src='/images/gajahkembar.JPG' alt='' /><br />
<strong>Gajah_Kembar</strong></p>
	<p><img src='/images/gajahbatik2.JPG' alt='' /><br />
<strong>Gajah_Batik</strong></p>
	<p><img src='/images/gajahbatik.JPG' alt='' /><br />
<strong>Keluarga Gajah Batik</strong></p>
	<p><img src='/images/gajahgantung.JPG' alt='' /><br />
<strong>Gajah_Gantung</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/16/dunia-replika-gajahku/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Salam Untukmu</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/07/salam-untukmu/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/07/salam-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 06:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Kreasi Puisi</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/07/salam-untukmu/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Di penghujung malam
aku mendekap bayanganmu dalam diam
memaknai benang emas pertemanan yang tlah tersulam
pada sudut-sudut hatiku yang tak lagi kelam
	Kepadamu yang berhati pualam
melalui goresan kalam
kusampaikan salam….
	

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/baru.jpg' alt='' /></p>
	<p><strong>Di penghujung malam<br />
aku mendekap bayanganmu dalam diam<br />
memaknai benang emas pertemanan yang tlah tersulam<br />
pada sudut-sudut hatiku yang tak lagi kelam</p>
	<p>Kepadamu yang berhati pualam<br />
melalui goresan kalam<br />
kusampaikan salam….</strong><em></p>
	<p></em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/04/07/salam-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Tangguh Di Situgintung</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/03/31/masjid-tangguh-di-situgintung/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/03/31/masjid-tangguh-di-situgintung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 07:17:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Focus</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/03/31/masjid-tangguh-di-situgintung/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Gambar: Kiriman Teman

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/masjiddalam.jpg' alt='' /></p>
	<p><strong>Gambar: Kiriman Teman</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/03/31/masjid-tangguh-di-situgintung/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Kutemukan Juga…</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/08/p163/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/08/p163/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 12:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Kuliner</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/08/p163/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Petualanganku berbulan-bulan berburu nasi tutug oncom di Kota Bandung berakhir pada hari ini. Justru saya mendapatkan makanan kesukaan ini di rumah makan yang berlokasi di Cimahi, dekat dengan tempat tinggalku, tepatnya di jalan Gandawijaya. Rupanya rumah makan yang terbilang baru ini ingin memuaskan pelanggannya dari berbagai kalangan dan etnis. Terlihat dari menu yang tersedia begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/venus4.JPG' alt='' /></p>
	<p>Petualanganku berbulan-bulan berburu nasi tutug oncom di Kota Bandung berakhir pada hari ini. Justru saya mendapatkan makanan kesukaan ini di rumah makan yang berlokasi di Cimahi, dekat dengan tempat tinggalku, tepatnya di jalan Gandawijaya. Rupanya rumah makan yang terbilang baru ini ingin memuaskan pelanggannya dari berbagai kalangan dan etnis. Terlihat dari menu yang tersedia begitu beragam. Selain tersedia masakan khas sunda, juga ada masakan mancanegara, termasuk hidangan ala Mandarin.</p>
	<p><img src='/images/venus.JPG' alt='' /></p>
	<p><img src='/images/berdua.JPG' alt='' /></p>
	<p><a id="more-163"></a></p>
	<p>Rumah makan yang terletak di lantai dua ini juga menjanjikan suasana tempat bersantap yang bersih dan asri. Kita bisa memilih meja yang sesuai selera. Ada meja-meja yang ditata di balkon, untuk para pengunjung yang senang bersantap sambil menikmati udara sore hari Kota Cimahi, juga sambil memandang suasana lalu lintas jalan Gandawijaya di bawah sana.  Ada meja-meja yang ditata dekat dengan tempat mengolah makanan, untuk para pengunjung yang ingin menyaksikan langsung proses pengolahan menu pesanannya.</p>
	<p><img src='/images/venus1.JPG' alt='' /></p>
	<p>Kebetulan pada hari ini perutku sedang dalam keadaan kosong melompong, ingin segera diisi. Ketika melihat daftar menu, saya kegirangan, sebab salah satu makanan pavoritku tertera di situ. Langsung saja saya memesannya pada pramusaji. Ternyata kami bertiga tak satu selera. Suami dan anakku tak tertarik sama sekali pada tutug oncom. Mereka lebih berminat memilih makanan yang sebenarnya mudah didapat di mana-mana. Suamiku lebih menyukai nasi uduk, sedangkan anakku nasi goreng.</p>
	<p><img src='/images/venus5.JPG' alt='' /></p>
	<p><img src='/images/venus8.JPG' alt='' /></p>
	<p>Penyajian nasi tutug oncom di rumah makan ini tidak lepas dari sepiring karedok kacang panjangnya, berikut sambel terasi. Wangi daun kemangi (surawung) turut membangkitkan seleraku. Jangan lupa, minumnyapun harus sesuai, yaitu air teh tawar yang asapnya masih mengepul.</p>
	<p><img src='/images/venus6.JPG' alt='' /></p>
	<p>Karena keadaan perutku memang sedang berharap diisi, acara makan kali ini begitu berkesan. Nikmat, mungkin juga disebabkan oleh olahan yang lezat. Khusus hidangan tutug oncom, terasa sekali oncomnya, sedangkan bumbu yang lainnya diramu dengan takaran yang pas. Satu lagi yang perlu diperhatikan, menyantap makanan ini lebih pas langsung disantap menggunakan tangan, sedangkan sendok dan garpunya abaikan saja!</p>
	<p><img src='/images/venus2.JPG' alt='' /></p>
	<p>Para pengunjung pada sore ini tak begitu banyak. Hanya beberapa pasang meja yang terisi, hingga suasana rumah makan ini lengang. Angin sepoi-sepoi dengan bebasnya menyapa kami. Dengan begitu, tempat ini bisa juga berfungsi sebagai tempat refreshing yang memadai. Bila demikian keadaannya, saya jadi betah berlama-lama di tempat ini, dan ada kemungkinan saya dan keluarga akan sering singgah di rumah makan ini. Serta bila kondisi dompetku memungkinkan, bisa sambil berbelanja busana di lantai dasar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/08/p163/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Gambar di Perjalanan Wisata</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/02/gambar-di-perjalanan/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/02/gambar-di-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 03:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Focus</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/02/gambar-di-perjalanan/</guid>
		<description><![CDATA[	
Menembus Kebumen
	
Kebumen dari dalam bis
	
	
Sosok abdi dalem Keraton
	
Mengabdi dengan setia
	
Jika Dinosaurus bertapa
	
Tak takut disantap

	
Manusia Air
	
Di hadapan Raja Jawa
	
Saat Borobudur diguyur hujan
	
Ojeg payung Borobudur
	
Prambanan dikala hujan
	
Pancuran Unik

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/magelang1.JPG' alt='' /><br />
<strong>Menembus Kebumen</strong></p>
	<p><img src='/images/Kebumendaridalambis.JPG' alt='' /><br />
<strong>Kebumen dari dalam bis</strong></p>
	<p><a id="more-162"></a></p>
	<p><img src='/images/Abdidalemkratonngantidawuh.JPG' alt='' /><br />
<strong>Sosok abdi dalem Keraton</strong></p>
	<p><img src='/images/Abdidalemyangsetiamengabdi.JPG' alt='' /><br />
<strong>Mengabdi dengan setia</strong></p>
	<p><img src='/images/Dinosaurusbertapa.JPG' alt='' /><br />
<strong>Jika Dinosaurus bertapa</strong></p>
	<p><img src='/images/MencucibajuditemaniDinosaurus.JPG' alt='' /><br />
<strong>Tak takut disantap<br />
</strong></p>
	<p><img src='/images/manusiaair.JPG' alt='' /><br />
<strong>Manusia Air</strong></p>
	<p><img src='/images/DidepanlukisanRajaJawa.JPG' alt='' /><br />
<strong>Di hadapan Raja Jawa</strong></p>
	<p><img src='/images/Borobudurdiguyurhujan.JPG' alt='' /><br />
<strong>Saat Borobudur diguyur hujan</strong></p>
	<p><img src='/images/OjegpayungdiBorobudur.JPG' alt='' /><br />
<strong>Ojeg payung Borobudur</strong></p>
	<p><img src='/images/Prambananadikalahujan.JPG' alt='' /><br />
<strong>Prambanan dikala hujan</strong></p>
	<p><img src='/images/Pancuranunik.JPG' alt='' /><br />
<strong>Pancuran Unik</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/02/02/gambar-di-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Warung Karedok Leunca</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/19/warung-karedok-leunca/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/19/warung-karedok-leunca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 04:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Kuliner</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/19/warung-karedok-leunca/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Warung nasi Bu Imas adalah warung nasi pavoritku, sebab di sinilah makanan serba khas Sunda dihidangkan. Mulanya, saya tahu tentang tempat ini dari seorang sahabat, ketika suatu hari saya bersamanya berkunjung  untuk makan siang di warung ini. Setelah satu kali kunjungan itu saya jadi ketagihan.
Yang menjadi daya tarik warung ini, selain masakannya yang asyik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/karedokleunca.JPG' alt='' /></p>
	<p>Warung nasi Bu Imas adalah warung nasi pavoritku, sebab di sinilah makanan serba khas Sunda dihidangkan. Mulanya, saya tahu tentang tempat ini dari seorang sahabat, ketika suatu hari saya bersamanya berkunjung  untuk makan siang di warung ini. Setelah satu kali kunjungan itu saya jadi ketagihan.<br />
Yang menjadi daya tarik warung ini, selain masakannya yang asyik di lidah sampai ke tenggorokan, juga cara penyajiannya. Para tamu tidak duduk di kursi dan meja terpisah, tapi duduk bersama-sama mengelilingi meja panjang tempat berbagai makanan dihidangkan. Dengan begitu, suasana dan acara makan jadi ramai dan terasa meriah karena makan berjamaah (balakècrakan), meskipun pada umumnya antara pengunjung yang satu dengan yang lainnya tidak saling mengenal. <a id="more-161"></a></p>
	<p><img src='/images/warungbuimas.JPG' alt='' /></p>
	<p>Saya jadi sering berkunjung ke tempat ini karena beberapa alasan. Pertama, saya senang pada suasana yang santai, dan kurang menyukai tempat makan yang formal, privacy, apalagi ekslusif. Dan suasana warung nasi ini sesuai dengan apa yang saya harapkan.<br />
Alasan kedua, menunya sederhana (tidak aneh-aneh) tapi membuat kita nikmat, seperti nasi putih, ayam bakar dan ayam goreng berikut lalaban dan sambal pedasnya, makanan yang dipepes, kikil, tahu, tempe, perkedel, dan lain sebagainya. Salah satu makanan khas yang membedakan warung ini dengan yang lain adalah karedok leunca. Di tempat lain saya belum pernah menemukan karedok leunca selezat karedok leunca di tempat ini. Gratis lagi, artinya bila pengunjung ingin mencicipi makanan ini yang memang cukup banyak dihidangkan di piring, bisa mengambilnya secara cuma-cuma, dan semaunya. </p>
	<p><img src='/images/sambel.JPG' alt='' /></p>
	<p>Alasan ketiga, harganya cukup terjangkau untuk kondisi saku saya.<br />
Alasan keempat, cepat saji. Di warung ini tak ada istilah melamun berlama-lama dalam rangka menunggu pesanan. Karena jumlah karyawannya cukup banyak, asal kita sudah menempati bangku yang tersedia, makanan yang kita pesan akan segera dihidangkan.<br />
Alasan kelima, tempatnya strategis karena terletak di pinggir jalan raya, sangat mudah dijangkau oleh kendaraan umum, serta mudah sekali memarkir kendaraan pribadi.<br />
Tapi, ada tapinya. Tapi yang pertama, bila kita datang ke tempat ini tepat pada saat jam makan siang, jangan banyak berharap dapat tempat duduk, sebab pasti semua bangku di warung itu sudah terisi penuh, baik di lantai dasar maupun di lantai atas. Dengan begitu, kadang-kadang terpaksa kita menikmati hidangan dengan posisi duduk berdempetan. Dan biasanya orang-orang yang sudah terlanjur datang ke tempat ini lalu tidak kebagian tempat untuk makan, tidak langsung berajak pergi lagi, tapi mereka rela mengantri, menunggu giliran makan dengan sabar, mungkin sambil berpikir: barangkali saja di antara tamu-tamu yang sedang asyik makan sambil berjejer itu ada yang cepat selesai makannya.<br />
Tapi yang kedua, jangan heran bila kita sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba saja diganggu oleh ketidaknyamanan pendengaran. Para pengamen dan peminta-minta dengan bebasnya keluar masuk tempat ini, mengganggu kekhusuan kita bersantap. Ya, mungkin inilah ciri khas warung nasi yang merakyat itu, tak bisa lepas dari orang-orang yang juga ingin ikut mencicipi sedikit rasa nikmat  yang telah dianugerahkan Allah swt. kepada kita.</p>
	<p><img src='/images/sambeldkk.JPG' alt='' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/19/warung-karedok-leunca/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Tubuhku Ambruk Juga</title>
		<link>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/09/akhirnya-tubuhku-ambruk-juga/</link>
		<comments>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/09/akhirnya-tubuhku-ambruk-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 03:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pamanahrasa</dc:creator>
		
	<category>Opini Pribadi</category>
		<guid>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/09/akhirnya-tubuhku-ambruk-juga/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Tubuhku ambruk juga, setelah seminggu lebih tak mengenal hari libur. Di saat semua guru dan murid tengah menikmati libur panjang, saya bolak-balik antara rumah dan sekolah, dalam rangka mempersiapkan arsip untuk mengikuti sertifikasi. Karena diporsir, stamina tubuhku memburuk, seluruh persendian terasa ngilu, seperti habis dipukuli orang sekampung. Badanku juga demam, suhu tubuhku naik, tapi kedinginan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/sakit.jpg' alt='' /></p>
	<p>Tubuhku ambruk juga, setelah seminggu lebih tak mengenal hari libur. Di saat semua guru dan murid tengah menikmati libur panjang, saya bolak-balik antara rumah dan sekolah, dalam rangka mempersiapkan arsip untuk mengikuti sertifikasi. Karena diporsir, stamina tubuhku memburuk, seluruh persendian terasa ngilu, seperti habis dipukuli orang sekampung. Badanku juga demam, suhu tubuhku naik, tapi kedinginan, disertai pusing entah berapa puluh keliling (bukan tujuh keliling lagi).<br />
Menurut prediksi sendiri, saya kelelahan. Pikiran terlalu konsentrasi pada pekerjaan mengumpulkan dan memperbanyak arsip-arsip. Dengan begitu saya harus istirahat total. Kegiatan kemarin-kemarin yang tidak mengenal libur itu sekarang harus dibayar dengan berbaring seharian di tempat tidur.<br />
Karena saya tahu betul penyebab ambruknya badan ini, ditambah lagi saya paling enggan pergi ke dokter, solusinya pun saya cari sendiri. Pertama, saya harus banyak istirahat, baik pisik maupun mental. Otak harus berhenti memikirkan yang rumit-rumit. Kedua, saya harus banyak makan dan minum makanan dan minuman pemulih tenaga, termasuk minuman suplemen. Ketiga, saya harus minum obat penghilang demam dan rasa ngilu itu.  <a id="more-160"></a><br />
Niatku mau istirahat total, tapi kenyataannya dalam keadaan terbaring lesu, pikiranku susah sekali diistirahatkan. Ingatanku selalu melayang bercabang-cabang. Saya merasa kasihan pada suami yang untuk sementara ini menggantikan posisiku mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dan mempersiapkan makanan untuk anak-anak. Merasa iba, karena anak-anak tidak diladeni sebagaimana mestinya oleh ibunya. Ingat juga pada blog-blogku yang terbengkalai, sudah berminggu-minggu tidak diisi tulisan. Ternyata yang namanya sakit itu tidak enak. Segala kegiatan rutinku terhambat. Akhirnya si sakit jadi tidak produktif.<br />
Dalam posisi tergolek lemah itu, saya mencoba menghubungi sahabat-sahabat untuk sekedar menghibur diri melalui SMS. Semangat untuk segera sembuh saya dapatkan ketika “ngobrol” dengan gajah_kurus. Dia menyarankan, nanti setelah sembuh saya harus menulis lagi di blog, serta menulis novel lagi seperti dulu. Padahal, saya rasa tulisannya lebih baik dari tulisanku. Bisa-bisanya dia memberi saran seperti itu.<br />
Kemudian saya “ngobrol” juga dengan sahabat lama yang bernama aneh, Teeunk. Ketika saya hubungi, dia sedang di Liwa, tepatnya di Bumbon, Lampung Barat, sedang mengadakan penelitian Macan Dahan. Cerita dia tentang pengalaman kesehariaannya cukup menghiburku. Katanya dia lagi survey Macan Dahan (<em>Neofelis Nebulosa</em>) dan Kucing Kuwuk (<em>Felis</em> <em>Marmorata</em>). Prosesnya, setelah hewan-hewan itu kena perangkap, lalu dibius dan dikalungi <em>radio colar</em>, untuk memonitor daerah jelajahnya. Dia melaksanakan survey itu dalam rangka membantu temannya (Jenny dan Kyle) yang sedang kuliah S3 di salah satu universitas di Amerika. Ketika Teeunk tahu saya sedang sakit, dia menyarankan agar saya istirahat dan makan yang banyak, serta minun jamu tolak angin, padahal saya paling tidak suka minum jamu.<br />
Sahabat satu lagi yang saya ajak “ngobrol”, Bu Nia. Dia juga tengah bernasib sama, sakit bareng ceritanya. Cuma keluhan dia bukan kelelahan, tapi kena cacar air. Sebagai teman yang senasib sepenanggungan, kami saling mendo’akan untuk kesembuhan masing-masing. Untung sekolah masih libur, jadi kami bisa istirahat di rumah dengan leluasa.<br />
Terbujur layu selama dua hari rasanya seperti dua tahun. Apalagi ketika besoknya dapat SMS yang menanyakan kabar kesehatanku dari adikku di Surabaya, Aang Zaini, duh saya jadi tambah rindu dunia cyber, kangen pada teman-teman di YM,  kangen pada teman-teman di Facebook.<br />
Ketika badan terasa pulih secara bertahap, saya menghidupkan komputer, dan segera menulis tentang semua ini. Yang ingin saya jelaskan di sini adalah, bahwa ternyata setiap manusia itu lemah. Tentang hal ini sebenarnya kita sudah menyadarinya sejak lama. Cuma, setiap kita lagi segar-segarnya, kita suka lupa daratan, seakan-akan kita tak akan bertemu dengan masalah kesehatan. Dan jika dalam keadaan lemah itu kita berpikir dan merenung kembali, kita akan semakin menyadari, betapa berharganya sehat itu, betapa mahalnya sehat itu, betapa indahnya sehat itu. Kita bisa berbuat banyak dalam hidup ini ketika sehat, kita bisa berkreasi ketika sehat, kita bisa menolong orang banyak ketika sehat. Sangat disayangkan, bila pada saat badan kita dalam keadaan segar bugar, tak satupun perbuatan baik dikerjakan, tak satupun karya dihasilkan.<br />
Untuk teman-teman yang sedang dianugerahi kesehatan dan umur oleh Yang Mahakuasa, mari kita berkarya sesuai minat dan bidangnya masing-masing. Mumpung kita sehat!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamanahrasa.blogsome.com/2009/01/09/akhirnya-tubuhku-ambruk-juga/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
