Melaju dengan Kencang

January 9, 2009

Akhirnya Tubuhku Ambruk Juga

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 3:54 am

Tubuhku ambruk juga, setelah seminggu lebih tak mengenal hari libur. Di saat semua guru dan murid tengah menikmati libur panjang, saya bolak-balik antara rumah dan sekolah, dalam rangka mempersiapkan arsip untuk mengikuti sertifikasi. Karena diporsir, stamina tubuhku memburuk, seluruh persendian terasa ngilu, seperti habis dipukuli orang sekampung. Badanku juga demam, suhu tubuhku naik, tapi kedinginan, disertai pusing entah berapa puluh keliling (bukan tujuh keliling lagi).
Menurut prediksi sendiri, saya kelelahan. Pikiran terlalu konsentrasi pada pekerjaan mengumpulkan dan memperbanyak arsip-arsip. Dengan begitu saya harus istirahat total. Kegiatan kemarin-kemarin yang tidak mengenal libur itu sekarang harus dibayar dengan berbaring seharian di tempat tidur.
Karena saya tahu betul penyebab ambruknya badan ini, ditambah lagi saya paling enggan pergi ke dokter, solusinya pun saya cari sendiri. Pertama, saya harus banyak istirahat, baik pisik maupun mental. Otak harus berhenti memikirkan yang rumit-rumit. Kedua, saya harus banyak makan dan minum makanan dan minuman pemulih tenaga, termasuk minuman suplemen. Ketiga, saya harus minum obat penghilang demam dan rasa ngilu itu. (more…)

April 23, 2008

Perbedaan Gaji Orang Eropa dengan Indonesia

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 4:47 am

Cerita humor kiriman seorang teman.

Ada dua orang yang sedang berdialog. Satu orang Eropa dan satunya, sudah tentu orang Indonesia. Orang Indonesia bertanya pada orang Eropa, berapa gajimu dan untuk apa saja uang sejumlah itu?”
Orang Eropa menjawab, “Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat tinggal, 1.000 Euro untuk makan, 500 Euro untuk hiburan.”
“Lalu sisa 500 Euro untuk apa?” tanya orang Indonesia. Orang Eropa menjawab secara ketus, “Oh … itu urusan saya, Anda tidak berhak bertanya!”
Kemudian orang Eropa berbalik bertanya, “Kalau anda bagaimana?”
“Gaji saya Rp. 950 ribu, Rp. 450 ribu untuk tempat tinggal, Rp. 350 ribu untuk makan, Rp. 250 ribu untuk transport, Rp. 200 ribu untuk sekolah anak, Rp. 200 ribu untuk bayar cicilan pinjaman, … Rp100 ribu untuk….”.
Penjelasan orang Indonesia terhenti karena orang Eropa menyetop penjelasan itu dan langsung bertanya.
“Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji anda. Sisanya dari mana?” kata orang Eropa itu keheranan.
Kemudian, orang Indonesia itu menjawab dengan enteng,” Begini Mister, tentang uang yang kurang itu urusan saya, anda tidak berhak bertanya-tanya.”

March 15, 2008

Ayat-ayat Cinta: Antara Novel dan Cinema

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 1:59 pm

film aac
aisha

Oleh Popon Saadah

Seorang cineas pernah berkata, bahwa jika ingin menghasilkan film yang baik dan bermutu harus berangkat dari cerita yang baik dan bermutu pula. Saya setuju dengan pendapat itu. Sebuah karya sastra tulis yang bagus bisa menjadi embrio film yang bagus. Ini terbukti dengan karya Habiburrahman yang monumental itu, “Ayat-ayat Cinta” (AAC).
Ketika karya ini masih berupa novel, banyak sudah kalangan yang membicarakan keunggulannya. AAC bak sebuah oase di padang pasir yang tandus. AAC adalah karya yang menghembuskan angin segar di tengah berlimpahnya karya-karya bermuatan liberal. AAC menjadi inspirasi bagi semuanya, terutama bagi generasi muda muslim.
Ketika karya ini bermetamorfosis dalam bentuk audio visual olahan tangan dingin Hanung Brahmantyo, juga diburu orang, dari berbagai kalangan pula. Mereka berbondong-bondong dan rela mengantri tiket berjam-jam di setiap bioskop di seluruh Indonesia.
Ada apa dengan “Ayat-ayat Cinta?”
Di dalamnya ada keorsinilan, keaktualan, dan keuniversalan. Cinta, perjuangan hidup, keyakinan, keteguhan iman seseorang, keintelektualan, berpadu menjadi sebuah harmoni. Bahwa hidup adalah kesabaran yang harus diperjuangkan, adalah tema film ini.
Novel dan filmnya pun tampak harmonis. Sejalan beriringan, saling melengkapi. Ini terjadi barangkali dikarenakan adanya dialog antara sang penulis dengan sang sutradara. Hasilnya, kedua karya ini membuat penikmat sastra dan seni terpuaskan. Tapi jika kita membandingkan novel dengan filmnya, kekurangan dan kelebihan masing-masing sudah pasti ada.
Dalam novel, kisah seorang Fahri begitu terperinci, sehingga imajinasi kita tentang sosok dan kepribadiannya sangat hidup. Perjalanan hidup dan kisah cintanya sangat kaya makna. Setiap lembar novelnya sarat akan kebijaksanaan yang sumbernya adalah Al Qur’an. Tapi novel itu kan karya tunggal. Yang berperan dalam karya ini hanya satu orang saja, yaitu pengarangnya. Tak ada campur tangan kru dan bantuan efek yang bisa turut membangkitkan rasa yang mengharu biru penikmat karya itu. Dan imajinasi setiap pembaca ketika membaca sebuah novel sudah pasti beraneka ragam dan tak terikat oleh batasan apapun.
Dalam film, kisah seorang Fahri, Aisha, maupun Maria sangat nyata. Sosoknya bisa dinikmati oleh penonton dengan imajinasi yang seragam. Sound efect, lighting, tata musik, beserta semua unsur yang mendukung terciptanya film tersebut bisa lebih menciptakan atmosfir yang lain bagi penonton, yang mustahil terjadi ketika kita membaca novelnya. Penghayatan peran setiap aktor dan aktrisnya ketika berakting juga akan sangat mempengaruhi emosional penonton.
Tapi seperti sudah kita ketahui bersama, film itu dibatasi oleh durasi, sehingga media ini tidak bisa leluasa menampilkan keseluruhan cerita yang tertuang dalam novel. Oleh karena itu dalam film AAC ada beberapa kisah yang “digunting”. Adapun pengguntingan penggalan kisah-kisah itu hak penuh sang sutradara. Kisah yang sekiranya tidak prinsip, bisa saja dibuang. Jangan protes bila dalam film itu kita tak menjumpai Fahri yang sakit keras sampai koma. Dan dalam komanya dia bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Kita pun tak usah menyesal karena tak menemukan adegan Fahri beserta keluarga Maria makan di restoran. Serta kita harus rela tak menemukan para penghuni penjara yang baik hati berada satu sel dengan Fahri. Kenapa Hanung melewatkan adegan-adegan tersebut, saya kira salah satunya karena alasan durasi.
Dengan begitu saran saya, nikmatilah keduanya. Sebelum menonton filmnya, lebih baik baca dulu novelnya. Setelah selesai membaca novelnya, tontonlah filmnya. Baru akan terasa bahwa kedua karya itu saling melengkapi.
Keunggulan Hanung yang lainnya dalam menggarap film ini yaitu kejeliannya memilih aktor dan aktris pemeran utama. Dia sudah berhasil menghadirkan sosok Fahri dalam diri Fedi Nuril, sosok Aisha dalam diri Rianti Catwright, serta sosok Maria dalam diri Carissa Putri.
Menurut saya kekurangan film ini hanya satu: tidak ada dialog-dialog panjang yang bisa menjadi bahan perenungan bagi penontonnya, karena terlalu didominasi oleh pergantian adegan.
Tapi walau bagaimanapun AAC dalam novel dan AAC dalam film, sama-sama mempesona.

February 25, 2008

Apakah Merokok Berbahaya?

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 6:18 am

udud

Tulisan Kiriman Seorang Teman.

Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah
diselidiki oleh beberapa pakar dalam bidangnya ternyata rokok itu sama sekali tidak berbahaya. Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala, di mana pada waktu itu nenek moyang kitapun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan, buktinya seperti cerita di bawah ini, dia tetap sehat walafiat.
Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang dokter. Mereka selalu bersama kemana saja mereka pergi. Tapi ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.
A. Herry (suka main perempuan);
B. Yohan (suka minum minuman keras);
C. Diyon (suka segala jenis rokok).
Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan-jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/kendi (seperti cerita Aladin). Lalu salah seorang mengambilnya, lalu meng-gosok2kan ketel tersebut. Sejurus kemudian asap keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: “Ha ha ha…” dan berkata, “Akulah Jin Ifrit!”
Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian. (more…)

February 22, 2008

Siapa Kita dan Apa Bacaan Kita

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 4:09 am

reading
Gambar: www.nutrisibalitacerdas.com

Oleh Popon Saadah

Sebagai manusia kita selalu ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal, setiap hari. Di hari-hari yang kita lalui ingin selalu ada kemajuan yang kita rasakan, sebab sejatinya hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Seyogyanya pula ilmu yang berada di dalam kepala kita setiap hari bertambah, untuk kemudian diaplikasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan kita sebagai seorang insan. Sehingga diharapkan ada keseimbangan antara pengetahuan yang kita miliki dengan sikap kita dalam menjalankan hablumminallah dan hablumminannas. Salah satu usaha ke arah itu adalah dengan banyak membaca.
Berbicara mengenai kegiatan membaca, ada yang perlu kita perbincangkan. Berhubung bacaan yang ada dan berlimpah di hadapan kita sekarang ini sangat beragam dan tidak semuanya pantas dilahap, kita perlu memilah-milah bacaan mana yang mengandung “gizi” dan “nutrisi” untuk otak kita, bacaan mana yang hanya berupa sampah dan bisa meracuni pikiran kita.
Orang yang berpikir tentu akan merasa rugi jika waktunya habis digunakan untuk memelototi bacaan-bacaan murahan yang sarat gosip dan sensasi, yang isinya melulu memberitakan keaiban-keaiban orang lain dengan pemberitaan yang sangat vulgar. Orang yang berpikir haus oleh bacaan-bacaan yang bernuansa humaniora dan human interest.
Saya kira kebiasaan membaca tulisan sampah maupun tulisan bermutu sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, hobby, serta karakter seseorang. Bagaimana mungkin seseorang bisa memahami karya-karya Pramudia Ananta Toer, bila dia tak menyukai sastra. Bagaimana mungkin dia akan memahami jagat kebudayaan dunia dewasa ini, bila hobby-nya hanya membaca berita-berita kriminal tanpa henti hingga usianya tua renta.
Dan dari kegiatan membaca pula kita bisa menebak karakter orang-orang di sekitar kita. Bila kita ingin mengetahui sifat seorang teman, tengoklah tulisan jenis apa yang sering dibacanya. Bila Si A senang membaca buku-buku tentang ke-Islaman, bisa dipastikan dia adalah seorang yang nyantri. Bila Si B menyukai buku-buku yang berbau pornografi, kepribadiannya pun tak akan jauh dari hal-hal seputar itu. Bila Si C menyukai buku-buku tentang petualangan tokoh-tokoh dunia, bisa jadi dia seorang petualang sejati. Dan Bila buku yang sering dibuka-buka Si D adalah buku tentang flora dan fauna, dia adalah seorang yang sangat bersahabat dengan alam, dsb, dsb.
Lalu buku dan tulisan jenis apa yang disukai oleh kita? Tentu saja kita mempunyai hak penuh untuk memilihnya, tak ada yang berkewajiban melarang, karena hal ini berkaitan erat dengan masalah selera. Hanya saja kita sangat menyayangkan, bila otak kita yang tak ternilai harganya ini, dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang tidak menyehatkan dan dijejali oleh bacaan-bacaan menyesatkan, yang akhirnya membuat pikiran kita menjadi picik, skeptis, dan tidak logis.

February 9, 2008

Hindari Memarahi Anak Dengan Cara Keroyokan

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 3:44 am

angry
Gambar: parisada-sumsel.org

Oleh Popon Saadah

Memarahi seorang anak yang bersalah atau yang melanggar sebuah aturan boleh-boleh saja. Bahkan bila kesalahan yang diperbuatnya itu relatif berat, marahnya orang tua kepada anak diharuskan, demi perbaikan perilaku si anak itu sendiri.
Yang harus dihindari adalah marah yang tak terkendali, membabi buta, dan tidak proporsional kepada mereka. Harus diingat, bahwa anak adalah mahluk kecil yang umurnya jauh di bawah kita, yang pengalaman hidupnya masih sangat sedikit, dan manusia kemarin sore yang masih sangat butuh bimbingan dari kita sebagai orang tuanya. Oleh Karena itu kita dituntut lebih bijaksana dalam menyikapi segala tindak tanduk keseharian mereka.
Dan marahnya kita pada mereka hendaknya bukan dikarenakan rasa dendam atau rasa benci yang mendalam, tapi harus didasarkan pada rasa kasih dan sayang. Hal ini akan sangat sulit dilakukan bila anak yang kita marahi itu bukan anak kandung, tapi anak orang lain alias murid-murid kita. Padahal justru memarahi anak orang lain akan lebih beresiko, selain harus bijaksana, kita juga harus berhati-hati dalam berucap ketika marah, sebab bila si anak laporan pada orang tuanya lalu orang tuanya salah menafsirkan kemarahan kita itu, tentu akan menimbulkan masalah baru.
Jadi ternyata marah pun ada etikanya, ada rambu-rambunya, bila kita tak ingin terjebak dalam emosi kita sendiri yang tak terkendali. (more…)

November 29, 2007

Pelajar dan Ponsel

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 2:15 am

media

Oleh Popon Saadah

Untuk saat ini ponsel bukanlah barang yang dianggap mahal dan bergengsi. Benda ini sudah begitu memasyarakat, dikenal oleh berbagai lapisan sosial dalam berbagai usia. Fungsinya pun sangat variatif, tergantung siapa yang memilikinya. Ada orang yang benar-benar memfungsikan ponsel sebagai alat yang sangat vital untuk mempermudah menjalin komunikasi dengan rekan bisnisnya. Ada yang memperlakukan ponsel sebagai benda yang setia setiap saat dalam membantu dirinya menghubungi siapa saja pada saat tertentu.
Untuk anak-anak ABG, ponsel bisa diartikan sebuah media yang bisa diajak “bermain” dan bersosialisasi. Untuk mereka, ponsel juga bisa berarti sebuah prestise. Bila ponsel yang dia miliki itu keluaran terbaru dengan fitur dan pasilitas yang lengkap, artinya dia sedang memaknai prestise, sedang memaknai apa artinya “kebanggaan” itu. Orang-orang seperti ini biasanya berpandangan, bahwa salah satu cara menaikkan gengsi adalah dengan memiliki ponsel termahal. (more…)

October 18, 2007

Sahabat Sejati

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 11:34 am

sahabat dekat

Untukku sahabat sejati itu adalah:
• Seseorang yang selalu mampu menjawab setiap pertanyaan tentang apa saja yang aku ajukan;
• Seseorang yang selalu mau mendengar berbagai permasalahan dan keluhanku tentang hidup;
• Seseorang yang selalu memberi saran yang menggembirakan;
• Seseorang yang yang selalu bisa menghiburku di kala aku bersedih;
• Seseorang yang bisa mengajakku berpikir logis di saat segenap perasaanku mendominasi akal sehatku;
• Seseorang yang bersikap bijaksana menghadapi sifat kekanakanku;
• Seseorang yang memaklumi segala kelemahanku;
• Seseorang yang menghargai ide-ide baikku;
• Seseorang yang tak pernah lupa memberi kado istimewa di hari ulang tahunku berupa ucapan selamat, di saat orang terdekatku sekali pun melupakannya;
• Seseorang yang tak pernah marah bila aku berbuat sesuatu yang tak menyenangkan hatinya;
• Seseorang yang tak pernah ingin mengetahui segala urusan pribadiku sampai kepada hal yang teramat pribadi;
• Seseorang yang memberikanku kebebasan dalam bersikap, tak pernah berniat memata-matai sepak terjangku.
• Seseorang yang yang selalu mengajakku bercanda di Yahoo Messenger, meskipun terlalu sering memasang status idle di menu utamanya.

Dari dirinya aku belajar tentang:
• Persahabatan yang hakiki;
• Kesederhanaan;
• Kelurusan hati;
• Keterbukaan pada pasangan hidup;
• Perjuangan hidup;
• Kasih sayang dan perhatian pada keluarga;
• Berbaik sangka pada semua orang;
• Kejahilan lebih baik dihadapi dengan kecerdikan.

September 21, 2007

Pengunjung Warnet

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 5:14 am

hacker

Saya adalah seorang pengunjung setia sebuah warnet di Cimahi. Dalam satu minggu, saya bisa mengunjunginya setiap hari bila sedang ada yang saya cari di internet. Malah dalam sehari kadang-kadang saya berkunjung sampai dua kali ke warnet itu. Bila berkunjungnya pada malam hari, saya biasa diantar mantan pacar.
Saya sering datang ke warnet itu karena keterbatasan sarana di tempat kerja. Sedangkan rumah saya sampai hari ini belum bisa menjangkau media teknologi informasi tersebut.
Karena seringnya datang ke warnet itu, saya sudah merasa bahwa warnet itu adalah kantor kedua saya setelah sekolah. Di warnet itulah saya “bekerja” dan berinteraksi dengan mahluk-mahluk cyber. Saking seringnya pula duduk berlama-lama di sana, saya jadi hapal pada setiap pengunjung setia warnet itu dan akhirnya bisa kenal dengan mereka, sehingga ketika bertemu lagi di tempat itu bisa saling sapa atau ngobrol dulu sekedar basa-basi. Saya kira keakraban sesama pengunjung warnet itu atas jasa operatornya. Karena operatornya ramah (welcome), bisa menciptakan keakraban para langganan, kami merasa nyaman dan santai.
Sebenarnya yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah keunikan beberapa pengunjung warnet.
Disamping anak-anak sekolah dan para remaja, warnet ini biasa dikunjungi pula oleh orang-orang dewasa seperti saya ini. Pada merekalah terdapat keunikan itu. (more…)

February 5, 2007

Banjir Jakarta

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 1:09 am

banjir lagi
Gambar: hasil download dari Google

Oleh Popon Saadah

Awal tahun 2007 kota metropolitan yang juga merupakan pusat pemerintahan RI diterjang air bah paling parah. Peristiwa ini bukan semata-mata fenomena alam, tidak terjadi secara tiba-tiba dan tanpa sebab, tapi sangat bisa dipastikan akibat kesalahan perilaku masyarakatnya.
Jika kita mau merenung dan berpikir sejenak, bencana ini adalah jawaban dari pertanyaan, “Apa akibatnya bila manusia tidak bersahabat dengan alam dan lingkungannya?” Ungkapan “tidak bersahabat” dalam hal ini maknanya sangat luas, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, mendirikan bangunan di atas tanah serapan air hujan, tata kota yang amburadul karena tak memakai strategi pengembangan kota yang benar, sampai kepada tindakan Illegal loging. Semua tindakan manusia yang disengaja itu sudah pasti berorientasi pada keuntungan material semata. Dan berapa pun keuntungan yang sudah mereka dapatkan, sangat tidak sebanding dengan kerugian dan penderitaan yang dialami warga Jakarta akibat banjir tahun ini. Kerugian dan penderitaan yang merata dirasakan oleh penduduk, baik yang punya andil dalam pengrusakan lingkungan maupun yang “tak punya dosa” pada alam. (more…)