

Oleh Popon Saadah
Seorang cineas pernah berkata, bahwa jika ingin menghasilkan film yang baik dan bermutu harus berangkat dari cerita yang baik dan bermutu pula. Saya setuju dengan pendapat itu. Sebuah karya sastra tulis yang bagus bisa menjadi embrio film yang bagus. Ini terbukti dengan karya Habiburrahman yang monumental itu, “Ayat-ayat Cinta” (AAC).
Ketika karya ini masih berupa novel, banyak sudah kalangan yang membicarakan keunggulannya. AAC bak sebuah oase di padang pasir yang tandus. AAC adalah karya yang menghembuskan angin segar di tengah berlimpahnya karya-karya bermuatan liberal. AAC menjadi inspirasi bagi semuanya, terutama bagi generasi muda muslim.
Ketika karya ini bermetamorfosis dalam bentuk audio visual olahan tangan dingin Hanung Brahmantyo, juga diburu orang, dari berbagai kalangan pula. Mereka berbondong-bondong dan rela mengantri tiket berjam-jam di setiap bioskop di seluruh Indonesia.
Ada apa dengan “Ayat-ayat Cinta?”
Di dalamnya ada keorsinilan, keaktualan, dan keuniversalan. Cinta, perjuangan hidup, keyakinan, keteguhan iman seseorang, keintelektualan, berpadu menjadi sebuah harmoni. Bahwa hidup adalah kesabaran yang harus diperjuangkan, adalah tema film ini.
Novel dan filmnya pun tampak harmonis. Sejalan beriringan, saling melengkapi. Ini terjadi barangkali dikarenakan adanya dialog antara sang penulis dengan sang sutradara. Hasilnya, kedua karya ini membuat penikmat sastra dan seni terpuaskan. Tapi jika kita membandingkan novel dengan filmnya, kekurangan dan kelebihan masing-masing sudah pasti ada.
Dalam novel, kisah seorang Fahri begitu terperinci, sehingga imajinasi kita tentang sosok dan kepribadiannya sangat hidup. Perjalanan hidup dan kisah cintanya sangat kaya makna. Setiap lembar novelnya sarat akan kebijaksanaan yang sumbernya adalah Al Qur’an. Tapi novel itu kan karya tunggal. Yang berperan dalam karya ini hanya satu orang saja, yaitu pengarangnya. Tak ada campur tangan kru dan bantuan efek yang bisa turut membangkitkan rasa yang mengharu biru penikmat karya itu. Dan imajinasi setiap pembaca ketika membaca sebuah novel sudah pasti beraneka ragam dan tak terikat oleh batasan apapun.
Dalam film, kisah seorang Fahri, Aisha, maupun Maria sangat nyata. Sosoknya bisa dinikmati oleh penonton dengan imajinasi yang seragam. Sound efect, lighting, tata musik, beserta semua unsur yang mendukung terciptanya film tersebut bisa lebih menciptakan atmosfir yang lain bagi penonton, yang mustahil terjadi ketika kita membaca novelnya. Penghayatan peran setiap aktor dan aktrisnya ketika berakting juga akan sangat mempengaruhi emosional penonton.
Tapi seperti sudah kita ketahui bersama, film itu dibatasi oleh durasi, sehingga media ini tidak bisa leluasa menampilkan keseluruhan cerita yang tertuang dalam novel. Oleh karena itu dalam film AAC ada beberapa kisah yang “digunting”. Adapun pengguntingan penggalan kisah-kisah itu hak penuh sang sutradara. Kisah yang sekiranya tidak prinsip, bisa saja dibuang. Jangan protes bila dalam film itu kita tak menjumpai Fahri yang sakit keras sampai koma. Dan dalam komanya dia bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Kita pun tak usah menyesal karena tak menemukan adegan Fahri beserta keluarga Maria makan di restoran. Serta kita harus rela tak menemukan para penghuni penjara yang baik hati berada satu sel dengan Fahri. Kenapa Hanung melewatkan adegan-adegan tersebut, saya kira salah satunya karena alasan durasi.
Dengan begitu saran saya, nikmatilah keduanya. Sebelum menonton filmnya, lebih baik baca dulu novelnya. Setelah selesai membaca novelnya, tontonlah filmnya. Baru akan terasa bahwa kedua karya itu saling melengkapi.
Keunggulan Hanung yang lainnya dalam menggarap film ini yaitu kejeliannya memilih aktor dan aktris pemeran utama. Dia sudah berhasil menghadirkan sosok Fahri dalam diri Fedi Nuril, sosok Aisha dalam diri Rianti Catwright, serta sosok Maria dalam diri Carissa Putri.
Menurut saya kekurangan film ini hanya satu: tidak ada dialog-dialog panjang yang bisa menjadi bahan perenungan bagi penontonnya, karena terlalu didominasi oleh pergantian adegan.
Tapi walau bagaimanapun AAC dalam novel dan AAC dalam film, sama-sama mempesona.