Melaju dengan Kencang

December 7, 2008

Mari Menulis di Blog

Filed under: Mari Menulis - pamanahrasa @ 10:02 am

Barangkali semua sahabatku mengerti betul, bahwa bila seseorang sudah menjadi kerabat dekatku, seseorang itu akan dituntut untuk mempunyai hobi yang sama denganku. Menurutku, teman dekatku juga harus gemar membaca, suka menulis, dan senang nge-blog. Di antara mereka itu ada yang patuh mengikuti segala tuntutanku, ada yang sama sekali menolak, ada juga yang kadang-kadang patuh kadang-kadang tak acuh pada tuntutanku itu, termasuk acuh tak acuh pada ajakanku untuk mempunyai webblog. Saya sangat mafhum, salah satu alasan kenapa mereka menolak, karena mereka sudah terlanjur berminat dan jatuh cinta pada bidang lain yang biasanya erat kaitannya dengan profesinya.
Lain halnya jika saya menularkan kegemaranku itu kepada sebagian siswa. Mereka sangat senang dan antusias, ketika suatu saat ditawari untuk belajar membuat blog dan mengisinya dengan karya-karya mereka. Bagi mereka, weblog adalah sarana untuk berekspresi selain friendster yang telah mereka miliki sebelumnya. Dan pada suatu hari, jadilah saya guru IT untuk sementara bagi kelima muridku.
Kami memanfaatkan ruang lab komputer yang lengang, karena waktu kegiatan belajar mengajar sudah usai, dan seluruh siswa sudah bubar, kecuali kelima muridku itu. Di ruangan ini, dengan diiringi alunan musik-musik indah pelepas lelah saya membimbing mereka membuat blog untuk diri mereka masing-masing, menggunakan metode inkuiri. (more…)

August 5, 2008

My CD

Filed under: Mari Menulis - pamanahrasa @ 12:02 am

My CD

July 16, 2008

Harus Menulis tentang Apa Saya Hari Ini?

Filed under: Mari Menulis - pamanahrasa @ 5:26 am

Oleh Popon Saadah

Bagi orang yang mempunyai hobby menulis kreatif, ide atau gagasan adalah sesuatu yang sangat berharga dan selalu ditunggu kedatangannya. Dengan munculnya ide di kepalanya dia bisa kembali menyalurkan hobby-nya itu, dan dengan segera asyik bermain-main dengan bahasa tulis. Yang sering menjadi persoalan adalah tidak selamanya ide itu mudah didapat. Bila kebetulan hati dan pikiran kita sedang mood, sang ide bisa begitu mudahnya kita dapatkan. Tapi terkadang sebuah ide tiba-tiba sangat enggan menghampiri kita, yang akhirnya membuat kita kebingungan serta bertanya-tanya, ”Harus menulis tentang apa saya pada hari ini?”
Padahal menurut mendiang sastrawan Mochtar Lubis, sebenarnya bahan tulisan itu sangat berlimpah di sekeliling kita. Bila kita kesulitan mencari ide, itu bisa disebabkan kurangnya kepekaan kita pada lingkungan sekitar, sehingga tidak bisa menangkap ide-ide yang sebenarnya begitu dekat serta berkeliaran di sekeliling kita.
Yang sering membuat bingung para penulis adalah pekerjaan mencari tema yang akan diuraikan dalam tulisannya. Sering seorang penulis merasa khawatir tema yang akan dia kemukakan dalam tulisannya nanti tidak akan menarik dan tidak akan pernah dibaca orang. Padahal menurut saya, menarik tidaknya sebuah tulisan bukan hanya terletak pada temanya, tapi juga pada cara penulis meramu karangannya, apakah dia menggunakan gaya dan bahasa penyampaian yang menarik atau membosankan? apakah karyanya itu komunikatif atau tidak? (more…)

June 26, 2008

Jadilah Editor Bagi Diri Sendiri

Filed under: Mari Menulis - pamanahrasa @ 12:42 am

Oleh Popon Saadah

Sebuah tulisan, apa pun itu bentuknya adalah sebuah karya yang patut dibanggakan oleh penulisnya, karena merupakan hasil dari proses berpikir dirinya. Apalagi bila karyanya itu dinilai baik, cantik, atau bermutu oleh para pembacanya. Tapi untuk menghasilkan karya yang patut dibanggakan itu tentu saja bukan perkara mudah, butuh proses dan waktu yang panjang serta kerja keras.
Sebuah tulisan atau karangan yang ditulis untuk kepentingan publik (dipublikasikan) harus diperlakukan sedemikian rupa oleh penulisnya. Diperlakukan sedemikian rupa di sini artinya harus diolah, dipoles, diedit terlebih dahulu sebelum dipublikasikan. Sampai pada akhirnya si penulis merasa yakin bahwa karyanya itu sudah melalui proses pengeditan yang matang dan final sehingga layak muat. Bila tidak, tulisan kita akan seperti makanan yang belum siap saji alias setengah matang, atau bahkan mungkin akan terasa masih mentah.
Dapat dibayangkan bila tulisan kita yang masih banyak bopengnya di sana-sini itu tergesa-gesa diumumkan dan dibaca oleh masyarakat umum. Bisa jadi tulisan tersebut bukannya memberikan manfaat pada para pembaca, tapi jangan-jangan malah membingungkan, menimbulkan salah tafsir, atau yang lebih parah lagi akan menyesatkan, serta memunculkan anggapan dari para pembaca yang kritis, bahwa si penulis adalah orang yang suka bekerja asal-asalan. Oleh karena itu, selain terampil menghasilkan bahasa tulis, seorang penulis juga hendaknya terampil mengedit karangan, terutama karangannya sendiri demi terwudunya karya yang cantik.
Saya berpendapat, sebuah tulisan disebut cantik bila tulisan tersebut sempurna (berpedoman pada cara penulisan yang baik dan benar menurut aturan bahasa yang baku serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan efektif).
Menjadi seorang penulis berarti menjadi orang yang sabar, tidak tergesa-gesa, dan teliti. Seorang penulis juga seseorang yang paham betul tentang seluk beluk aturan berbahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Seorang penulis adalah seorang pekerja keras (belajar terus menerus, menggali berbagai referensi, haus akan informasi, berkaca pada karya-karya bermutu, tidak cepat puas pada karya yang telah dihasilkannya, dan sebagainya). Semua itu demi keprofesionalannya.
Sesungguhnya menjadi editor bagi diri sendiri sangat menyenangkan. Menyunting karangan sendiri lebih bebas dilakukan dari pada menyunting karya orang lain, karena tidak perlu meminta pertimbangan orang lain tersebut sebagai penulisnya. Mengedit karya sendiri ibarat bersolek di depan cermin sesuka hati, tanpa campur tangan penata rias di luar diri kita.
Pada umumnya penyuntingan sebuah tulisan meliputi penyuntingan:
1. Ejaan dan tanda baca;
2. Struktur kalimat;
3. Diksi (pemilihan kata);
4. Pengembangan paragraf;
5. Keutuhan tema karangan;
6. Kesalahan dalam pengetikan.
Jangan pernah menyerahkan penyuntingan sepenuhnya pada orang lain atau editor sebuah penerbitan, sebab hasil suntingan orang lain bisa saja memunculkan perubahan makna pada karangan kita. Usahakan editor lain menjadi tidak berdaya menghadapi karya kita karena karya kita memang sudah betul-betul final.
Selamat menjadi editor untuk diri sendiri!