Melaju dengan Kencang

April 20, 2009

Mengendalikan Pasar, Mencari “Guru Negara”

Filed under: Artikel Tamu - pamanahrasa @ 4:31 am

Oleh Iwan Gunawan

22 Maret 2009 jam 17:43
“Kelangkaan bukan hanya disebabkan alam, tapi juga manusia.
Dan ilmu ekonomi tidak hanya bersangkut paut dengan alam sekelilingnya, tapi juga dengan selera konsumsi
manusia dan kesanggupannya berproduksi”
(Robert. L. Heilbroner; The Making of Economic Society)

Sistem ekonomi pasar yang diagungkan dapat membina rasionalitas, ternyata telah menciptakan bangsa ini semakin dekat dengan apa yang diangankan (desire) namun semakin jauh dari apa yang dibutuhkan (need). Memicu irasionalitas dalam berkonsumsi. Menciptakan gejolak melalui hadirnya benda-benda produk asing yang menawarkan pemuasan keinginan. Membiak melalui sentra-sentra perbelanjaan di desa dan di kota pelosok nusantara . Sementara kebutuhan bahan pokok kini langka di peredaran permintaan rakyat banyak .

Kelaparan tumbuh mengiris hati berdampingan dengan kemewahan yang menjadi . Gambaran ekonomi (anggaran rumah tangga) negara yang sedang timpang (defisit). Negara yang besar pasak daripada tiang. Pasak yang mewah dimiliki segelintir orang dimana tiang sandang, pangan dan papan hanya menjadi impian bagi para pengemis dan gelandangan. Bisakah pasar dikendalikan oleh negara yang menjadi rumah warganya ? Mungkinkah para gelandangan lapar kembali menghuni rumah tinggalnya ? Bisakah pasak-pasak kemewahan menegakkan kembali tiang-tiang rumah mereka yang kini hidup bergerombol di jalanan ? Dan dapatkah irasionalitas dalam pasar digeser oleh rasionalitas negara agar lahir kebijakan obyektif dimana orang banyak bisa hidup sejahtera ?

Konsumerisme kini tumbuh di dalam kehidupan pasar. Terdorong oleh pemenuhan keinginan yang melampaui dari apa yang dibutuhkan. Pemilikan benda-benda yang diangankan lebih memberikan kepuasan atas pemenuhan barang-barang pokok yang dibutuhkan. Bentuk keinginan berlebihan yang disebabkan tuntutan egoisme menuju realitas ekonomi yang sakit. Mengabaikan pemenuhan kebutuhan wajar dan kolektif bagi tumbuhnya ekonomi yang sehat. Tercetus oleh spontanitas iklan untuk meraih untung menggelembung. Mengorbankan tuntutan permanen atas barang-barang pokok yang dibutuhkan. Bentuk eksploitasi atas angan-angan konsumen yang menimbulkan banyak kefrustasian. Pasar melalui irasionalitas yang dikandungnya telah merusak organ ekonomi bangsa dengan menyumbat kemajuan penyaluran kebutuhan bagi rakyat yang belum sejahtera. (more…)

August 14, 2007

Syirik, Jenis-jenis dan Bahayanya

Filed under: Artikel Tamu - pamanahrasa @ 5:44 am

Gandara Budha
Gambar: id.wikipedia.org

Oleh : Abi Abdullaah

Makna Syirik
Syirik artinya menyekutukan Allah SWT dalam beribadah dengan salah satu diantara makhluk-Nya.

Sebab-sebab Syirik
1. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan yang berlebihan. Pengagungan dalam syari’at Islam ada 2 macam :
a. Pengagungan yang sampai batas2 tertentu dibolehkan bahkan diwajibkan (thobi’i), seperti anak kepada ayahnya (QS 17/23-24), terhadap nabi dan rasul as (QS 4/64, 24/63, 49/2-3).
b. Pengagungan yang berlebihan dan sampai pada tingkat taqdis (pengkultusan) kepada siapapun adalah terlarang, walaupun terhadap nabi as (QS 3/144), malaikat (QS 43/19), jin (QS 37/158-159), ulama dan orang shalih (QS 71/21-23), benda2 langit (QS 41/37).
2. Bersandar kepada sesuatu yang dapat diketahui oleh panca indera saja dan meremehkan yang diluar panca indera (QS 2/55, 7/138, 20/87-88).
3. Mengutamakan hawa nafsu (QS 31/21, 19/59, 28/50, 25/43, 3/14).
4. Bersikap sombong (QS 43/51-52, 40/56, 2/258).
5. Ridha pada para pimpinan yang menindas manusia dan tidak berhukum kepada hukum Allah SWT dan rasul-Nya (QS 5/44-47, 7/65-66, 7/73-76, 34/31-33). (more…)

June 15, 2007

Suatu Hari Dalam Kehidupan Pramudya Ananta Toer

Filed under: Artikel Tamu - pamanahrasa @ 2:56 am

PAT

Oleh Gunawan Mohamad

Hidup memang bukan pasar malam, juga di tempat tahanan politik Pulau Buru. Di belakang kawat berduri itu berjajar barak-barak bambu: bangunan sederhana di tengah sunyi ilalang dan pokok-pokok meranti yang telah ditebang. Di keluasan itu, hampir-hampir tak ada suara.
Di hari Kamis sore yang mendung tanggal 25 Desember 1969 tersebut, seorang laki-laki berkaus dan bercelana khaki-dril lusuh berdiri dekat barak yang paling ujung. Barak XIX. Rambutnya putih seluruhnya. Dan jarak sekitar 25 meter itu saya tak segera mengenali wajahnya, yang kadang-kadang diselaputi asap sampah yang sedang dibakar. Tapi kemudian saya tahu: dialah Pramoedya Ananta Toer.
Ia adalah tahanan pertama yang terlihat dalam kamp itu. Ia melambai-lambai rombongan wartawan yang datang dari Jakarta, lewat Ambon, singgah di Namlea, menyusuri sungai Way Apu, dan saat itu muncul satu demi satu –setelah perjalanan kaki yang panjang menuju kamp – di atas jalan setapak yang becek dan hitam. (more…)

May 16, 2007

Orang dan Bambu Jepang

Filed under: Artikel Tamu - pamanahrasa @ 2:48 am

ajip rosidi

Oleh Ajip Rosidi

Salah satu “rahasia” manajemen Jepang seperti yang sering ditulis oleh para ahli ialah bahwa dalam mengambil keputusan memerlukan waktu yang lama, karena segala sesuatu dibahas bersama oleh mereka yang akan terlibat dengan keputusan tersebut, termasuk para pegawai rendahan di tingkat bawah. Dengan demikian meskipun mrngambil waktu pada waktu pengambilan keputusan , namun kalau sudah diputuskan pelaksanaannya akan berjalan lancar, karena semua orang yang terlibat telah tahu mengenai hal itu dan mereka menempatkan diri tepat pada peranan yang dikehendaki.
Hal itu berlainan dengan manajemen gaya Barat, yang memberi hak kepada eksekutif paling atas untuk mengambil keputusan tanpa mendengarkan pendapat bawahannya. Pengambilan keputusan dalam gaya manajemen Barat dilaksanakan dengan cepat, tetapi pada pelaksanaan operasionalnya sering menemukan hambatan karena orang-orang bawah yang menjadi pelaksananya sering belum tahu apa-apa tentang apa yang harus dikakukannya. (more…)