Melaju dengan Kencang

December 11, 2008

Putra Galuh yang Rendah Hati

Filed under: Profil - pamanahrasa @ 11:33 pm

Oleh Pamanahrasa

Sampai detik ini saya tetap percaya pada argumen sendiri, bahwa setiap individu itu sangatlah unik. Dari keunikannya kita bisa menggali hal-hal positif, untuk kemudian “diakses” sebagai sesuatu yang layak diteladani atau dijadikan cermin oleh kita. Berdasarkan argumen inilah tulisan ini hadir di hadapan anda.
Awalnya saya agak kesulitan untuk memulai menulis tentang profil sahabat yang satu ini. Rasa khawatir tidak bisa mendeskripsikannya secara benar, memenuhi segenap perasaanku. Tapi di sisi lain, saya begitu ingin menuliskan profilnya. Saya sempat menimbang-nimbang berminggu-minggu mengenai hal ini. Lalu sempat pula saya meminta ijin padanya untuk menulis tentang dia di blog yang ini, dan alhamdulillah dia merestuinya.
Saya mengenalnya karena sengaja dikenalkan oleh seorang rekan satu instansi (Pak Agus Sudrajat) melalui Yahoo Messenger. Id (nickname) teman Pak Agus sekaligus sahabat baruku ini mengingatkan saya pada nama salah seorang presiden Mesir yang memerintah antara tahun 70-80-an. Melalui media chatting itu saya banyak mengetahui tentang dia berikut kegiatan sehari-harinya.
Dia adalah seorang guru yang sekarang sedang bertugas di negeri orang. Tak heran percakapan kami pun sering bertema seputar kegiatan yang dilakukan orang-orang perantauan. Setiap bercakap-cakap dengannya, sangat terasa oleh lawan bicara bahwa dia begitu merindukan keluarga dan kampung halamannya.
Sesekali kegiatan chatting kami terganggu dan terputus, disebabkan waktu luang saya dan dia yang terbatas. Sehingga saya harus bersabar dalam mengumpulkan data maupun informasi tentang dia. Satu hal yang membuat saya bersikeras ingin menuliskan profilnya adalah begitu dominannya sifat rendah hati seorang putra Kawali pada dirinya.
Setiap saya berkomunikasi dengannya, ada saja hal-hal baru yang bisa menambah luasnya cakrawalaku dalam mengarungi kehidupan ini. Yang membuat saya sering lupa beranjak dari depan PC setiap sharing dengannya yaitu pembicaraanya yang tidak asal bicara. Setiap kata yang diketiknya seolah-olah menyuruhku untuk berpikir, berefleksi, serta berkontemplasi. Seperti ketika berbincang tentang kata “mani” dalam bahasa Sunda. Kata itu mempunyai dua arti (homonim). Mani yang satu berarti kata tugas, untuk menekankan makna kata yang diikutinya dalam kalimat, seperti mani geulis (begitu cantiknya), mani lega (begitu luasnya), mani galak (begitu galaknya), dsb. Arti kata mani yang lain berarti air nutfah. Agak panjang dia menguraikan makna kata ini. Inti dari pembicaraannya tentang nutfah: dengan kekuasaan-Nya Yang Mahabesar, Allah merubah air yang semula hina menjadi mahluk bernama manusia.
Untuk menyelami pribadi seorang Galuh lebih jauh, saya juga membuka Wordpress-nya. Biasanya isi blog seseorang bisa berbicara lebih banyak kepada pembaca, siapa dan bagaimana sesungguhnya bentuk kepribadian pemilik blog itu. Dia banyak membuat tulisan yang kental unsur religiusnya, hal ini erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan dan profesinya sebagai guru agama Islam, disamping kefasihannya berbahasa Inggris.
Suatu hari saya memesan tulisan tentang pengalamannya selama berada di negeri Gajah Putih itu. Esok harinya pesananku sudah tersedia di blognya. Dia bercerita secara terperinci dan hidup, tentang pengalamannya bersama rekan-rekan dan muridnya saat berkunjung ke Musium Biologi Siriraj, Thailand. Menurutnya tulisannya itu tulisan yang alakadarnya, (meminjam istilah dia sendiri, tulisan yang ngacaprak ledak). Padahal di mataku karyanya itu adalah karya yang tidak main-main, karya yang boleh dibilang dokumentatif, edukatif, dan informatif.
Ketika ditanya tentang prinsip hidupnya, dia mengetik kalimat yang bertubi-tubi di folder kami saat chatting, seperti ini:
“Prinsipku adalah berani hidup tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup, mati saja. Jalani hidup apa adanya”. Dan obsesinya selama ini, ingin mendirikan pelatihan (kursus) bahasa Inggris yang Islami di kampungnya.
Atas nama seorang sahabat yang sama-sama terlahir sebagai orang Sunda, saya akan sangat berbahagia bila suatu saat segala harapan dan obsesinya itu tercapai. Dan tak pernah lupa sampai hari ini pun saya selalu berdo’a dari tempat yang jauh, untuk keselamatannya sebagai turis yang tengah melaksanakan kewajibannya ber-syiar Islam di negara yang situasi politiknya sedang tidak menentu itu.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ungkapkan tentang dia di sini, tapi….biarlah sebagiannya lagi saya simpan rapi di benakku sebagai arsip (file) dan referensi bila suatu hari saya berniat menulis lagi cerita pendek atau novel.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://pamanahrasa.blogsome.com/2008/12/11/putra-galuh-yang-rendah-hati/trackback/

  1. www.ahmadlabib.wordpress.com
    mohon masukan dan tambahan ilmu untuk blog saya.
    hatur nuhun

    Comment by Ahmadlabib — December 12, 2008 @ 3:47 am

  2. Insya Allah.

    Comment by pamanahrasa — December 15, 2008 @ 2:10 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.