Melaju dengan Kencang

October 8, 2008

Mudik Asyik Berdua Saja

Filed under: Kakaren Lebaran - pamanahrasa @ 3:16 am

Oleh Popon Saadah

Pada hari keempat bulan Syawal, yang pada umumnya dikenal dengan istilah H+4, saya dan suami berniat mudik ke Sumedang berdua saja menggunakan sepeda motor. Di saat orang-orang kembali dari kampung halaman menuju rumah masing-masing (balik), kami baru mau mudik (lagi). Tak banyak persiapan, cukup dengan kostum khusus pengendara motor jarak jauh serta sedikit bingkisan untuk Emang di Sumedang. Berangkat dari rumah agak siang, karena kami tahu medan yang akan dilewati tidak seberat ketika kami menempuh perjalanan ke Limbangan Garut. Biasanya jalan menuju Sumedang jarang macet oleh kendaraan dan tidak turun naik. Paling-paling ada beberapa tikungan tajam di sepanjang jalan Cadas Pangéran.
Dari Cimahi kami berdua terus melaju melewati jalan Soekarnohatta (bypass) yang panjang itu, lalu Cileunyi, Jatinangor, Tanjung Sari, singgah sebentar di SPBU Ciroméd, melaju kembali menuju Cigendél, Cadas Pangéran, dan seterusnya. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya bergemuruh suara mesin kendaraan. Barisan pengendara sepeda motor pada saat itu menyerupai pasukan prajurit berhelem yang hendak berperang menyerang musuh. Di mana-mana di sepanjang jalan kiri dan kanan dengan arah berlawanan terlihat armada sepeda motor pemudik, entah arus mudik entah arus balik memenuhi jalan raya dan jumlahnya mengalahkan jenis kendaraan lain.
Ada keasyikan tersendiri pada perjalanan ini. Sepeda motor yang kami tumpangi melaju kencang berpacu dengan waktu dan balapan dengan sepeda motor lainnya. Saya melihat semua pengendara motor pada saat itu berperilaku seragam, memacu sepeda motornya, melaju dengan kencangnya, seolah-olah sedang berada di sirkuit Sentul. Saya jadi bisa merasakan betapa beratnya kehidupan jalanan itu: keras dan berbahaya.
Menurutku sepeda motor adalah kendaraan beroda dua yang agak istimewa bila dibandingkan dengan kendaran bermotor lainnya. Praktis, simpel, dan bisa melaju dengan cara sulap-selip susulapan di tengah kendaran yang tengah antri panjang terjebak kemacetan. Bila si pengendara sudah mahir mengendarai sepeda motornya, tak ada istilah terjebak macet, karena jalan sesempit apapun bisa dilaluinya dengan berlari seperti larinya seekor belut yang licin karena ketakutan ditangkap manusia. Cuma, memang ada kurang asyiknya juga. Di atas sepeda motor yang tengah berlari itu, saya dan suami jadi terputus komunikasi. Saya kebanyakan diam seribu bahasa sambil mendekap punggung suami erat-erat. Tak ada obrolan ringan, tak ada kelakar. Sempat saya bertanya sesuatu padanya, tak dijawabnya, karena suaraku langsung pecah dan berbaur dengan kebisingan suara mesin kendaraan sebelum sampai di telinga lawan bicara. Pada saat mengisi bensin di SPBU Ciroméd, baru kami bisa berinteraksi. Sangat beda keadaannya apabila mudik menggunakan mobil, kami bisa ngobrol ngaler ngidul dan bercanda sesuka hati. Memang setiap jenis kendaraan mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing seperti layaknya kita, manusia.
Ketika badan sudah terasa pegal-pegal terutama di bagian punggung dan pinggang, kami berdua berhenti untuk beristirahat dan solat duhur di Mesjid Agung Sumedang. Sambil menunggu adzan duhur saya jajan dulu bakso, dan setelahnya jajan rujak bebek yang dijajakan di kakilima. Sambil menikmati pedasnya kuah bakso, saya teringat pada seorang sahabat yang bermukim di Texas Amerika. Bila dia pulang ke Indonesia selalu menyempatkan diri membeli atau jajan makanan di kakilima. Alasannya selain murah juga terasa nikmat di lidah. Memang benar apa yang dikatakannya itu. Entah karena kebetulan atau memang makanannya enak, jajanku kali ini pun terasa nikmat. Sudah tempatnya merakyat murah lagi, satu mangkok bakso plus teh botol harganya hanya Rp. 8000,-
Setelah badan terasa segar kembali, perjalanan kami lanjutkan. Semakin jauh memasuki Kota Sumedang, bertambah banyaklah bertebaran warung-warung tahu Sumedang yang lezat itu. Di setiap toko dan warung yang menjual tahu selalu berkerumun para pembeli yang bisa dipastikan datang dari tempat yang jauh. Barangkali orang-orang itu berpendapat, belum merasa puas berkunjung ke Sumedang Tandang bila tidak membeli tahunya.
Saya tak bisa bercerita banyak tentang kota ini berikut penghuninya, sebab saya bukanlah orang Sumedang. Saya tidak paham tentang seluk beluk Sumedang kotanya apalagi desanya. Saya mulai sering berkunjung ke daerah ini setelah saya mengenal mantan pacar yang sekarang jadi teman bermudik itu, sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal Sumedang. Karena kami berkunjung ke kotanya bukan udiknya, jadi mungkin istilah yang tepat untuk kami pada saat ini adalah kami sedang ngota (pergi ke kota) bukan sedang mudik (pergi ke udik). Suami tak mengajakku berkunjung ke desa kelahirannya di Situraja. Selain sudah tak memiliki orang tua lagi di sana, juga jarak tempuhnya masih cukup jauh dari Sumedang kota serta alasan lainnya. Dia hanya mengajak berkunjung ke rumah pamannya di Ketib.
Dan sepulang dari makam Bibi dan rumah Paman yang ternyata pribuminya sedang tak ada di tempat, saya pun menyempatkan diri mampir ke warung tahu untuk membeli sedikit oleh-oleh untuk anak-anak di rumah. Saya baru tahu bahwa selain tahu ada juga oleh-oleh khas Sumedang lainnya yaitu oncom Pasirreungit.
Keselamatan dan keberkahan telah Allah limpahkan kepada kami berdua. Pada hari ini udara di setiap jalan yang kami lalui sangat cerah. Saya jadi lebih menikmati bermacam ragam pemandangan di sepanjang jalan yang dilewati. Tak bisa dibayangkan bila saat itu turun hujan deras, bisa-bisa kami tak bisa melanjutkan perjalanan yang cukup melelahkan ini.
Ada hal yang menarik untuk dibicarakan di sini. Pada Idul Fitri tahun ini di pinggiran jalan mulai dari Cimahi, Bandung, sampai Sumedang, bahkan juga di Garut banyak bertebaran spanduk dan baliho yang bermuatan politis. Spanduk dan baliho itu berisi gambar para caleg disertai ucapan selamat Idul Fitri dan ucapan permohonan maaf dari para caleg tersebut yang merupakan wakil dari berbagai partai politik. Parpol yang paling mendominasi jalanan dengan spanduk yang berbau kampanye itu adalah partai Golkar, PDIP, PAN, dan Partai Demokrat. Saya teringat kembali pada sebuah bahasan panjang lebar di harian Pikiran Rakyat, buah tangan Bapak Karim Suryadi tentang fenomena ini. Di akhir tulisannya itu beliau memberi saran pada para politikus, agar ucapan maafnya itu tidak hanya disampaikan pada saat Idul Fitri saja, tapi alangkah lebih baiknya bila mereka sampaikan juga pada saat mereka membuat kesalahan-kesalahan yang merugikan rakyat, untuk ini Bapak Karim Suryadi menyebutnya dengan istilah “Politik Bening Hati”.
Selama dalam perjalanan pulang, setiap melihat spanduk dan baliho yang cukup mengganggu pemandangan itu sayapun jadi banyak berpikir dan berpendapat, bahwa para politikus di negeri kita memang orang-orang yang pandai, pandai memanfaatkan situasi. Momen Idul Fitri mereka manfaatkan sebagai momen berkampanye dengan cara menyebarkan spanduk ucapan selamat hari raya untuk dipampang di tempat-tempat yang strategis dan di pinggir jalan-jalan raya, dengan begitu akan terhindar dari tuduhan mencuri start berkampanye. Padahal sekarang rakyat sudah lebih pintar dari mereka. Rakyat lebih mendambakan karya yang benar-benar nyata. Rakyat tidak butuh spanduk yang bertuliskan ucapan selamat, semboyan, maupun jargon, yang biasanya realisasinya hanya sampai pada sepotong spanduk dan baliho yang merusak indahnya pemandangan jalan raya itu, tidak pernah ada tindak lanjutnya. Rakyat sangat mengharapkan tindakan-tindakan nyata para wakil rakyat seperti: pembelaan terhadap rakyat yang rumahnya tergusur, pembelaan terhadap para TKI di luar negeri yang bernasib tragis, dan pembelaan pada berjuta rakyat tertindas dan teraniaya lainnya yang tengah harap-harap cemas menunggu para wakilnya yang rela lillahi ta’ala membela hak-hak rakyat yang diwakilinya.
Sebelum meninggalkan Sumedang, kami mampir dulu ke warung nasi Pinus yang berderet di sepanjang jalan Cigendél. Kami beri nama warung nasi Pinus karena lokasinya berada di bawah naungan ratusan pohon pinus. Ternyata butuh kejelian dalam memilih tempat yang sesuai selera. Kurang berpengalaman dalam memilih tempat makan di sini akan mengalami kekecewaan. Berdasarkan pengalaman, suasana yang sejuk dan asri seperti di tempat ini tak selamanya mendukung bangkitnya selera makan, sebab ada saja warung nasi yang melayani tamunya dengan asal-asalan, menghidangkan masakan yang tak berasa, serta harga yang tidak logis.
Pulang ke Cimahi kami mengambil jalan yang berbeda dari tadi pagi waktu berangkat. Keluar dari Sumedang kami memilih jalan-jalan seperti Cileunyi, Cibiru, Cipadung, Cinunuk, Phh. Mustopa, Ahmad Yani, Pasteur, dan seterusnya hingga sampailah di Citeureup. Dengan kelelahan yang teramat sangat, kami bergegas mengambil air wudu untuk segera solat asar di rumah sendiri karena waktu telah menunjukkan pukul 17.00, tak kurang tak lebih.***

6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://pamanahrasa.blogsome.com/2008/10/08/mudik-asyik-berdua-saja/trackback/

  1. Pengalaman jadi biker eh boncenger ya bu…emm pasti asyik deh, apalagi berduaan dengan mantan pacar :-)
    Kapan ya saya ngebonceng mantan pacar jarak jauh, sepertinya asyik…
    Satu yang tidak bisa lepas eh lupa ya bu, ke manapun dan di manapun inget bakso.

    Comment by gajahkurus — October 8, 2008 @ 4:50 am

  2. menurut saya mudik berdua naik motor itu TeOPe. Meski kurang bisa berkomunikasi verbal, tapi naik motor berdua itu mesra, karena bisa memeluk suami dengan erat, hehehe.
    Sayangnya, sekarang selama hamil saya gak bisa sering-sering naik motor jarak jauh seperti itu. Tapi jangan salah, kita tetep mesra kok.

    Comment by Ambu si Kaka — October 8, 2008 @ 4:53 am

  3. Yaa… komennya ternyata keduluan sama Kang Gajahkurus….

    Comment by Ambu si Kaka — October 8, 2008 @ 4:56 am

  4. Kanggo gajahkurus: Emang, upami abdi nganjang ka hiji tempat, teras katinggal aya tukang baso, duh meni asa reugreug hate teh.
    Kanggo Ambu Si Kaka: Selamat bermesra-mesraan aja deh, baik di motor atau di manapun, biar utun injinya ikut happy.

    Comment by pamanahrasa — October 10, 2008 @ 2:33 am

  5. Teteh, hobi makan baso? Amengan atuh ka Tasik. Basonya terkenal mak nyos.

    Comment by Ambu si Kaka — October 13, 2008 @ 4:54 am

  6. Muhun Yi ah, hiji waktos mah hoyong amengan ka Tasik, hoyong nyobian basona…

    Comment by pamanahrasa — October 22, 2008 @ 1:02 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.