The Thin Elephant

Oleh Pamanahrasa
Aku mengenalnya ketika dia sedang menjadi komentator pada blog Bujanggamanik. Belakangan diketahui bahwa dia ternyata komentator ulung. Saran-saran berharganya maupun komentar-komentar ringannya tersebar di banyak blog. Oleh karena itu jangan heran bila blog kepunyaannya pun kebanjiran komentar dari para kolega dan sahabat-sahabat dekatnya.
Setiap artikel yang dia posting, dalam waktu dua hari sudah mendapat komentar dari para responden rata-rata di atas 20 komentar. Malah salah satu artikelnya dalam waktu dua hari saja sudah bisa memancing 30 komentar dari rekan-rekan satu species-nya (species blogger). Sungguh sebuah prestasi yang mengagumkan. Aku baru menemukan fenomena ini hanya di blog kepunyaannya. Meskipun rata-rata komentarnya itu tidak benada serius alias bercanda, tapi itu sudah merupakan bukti bahwa yang punya blog adalah orang yang supel, senang bergaul, serta paham betul akan metode dan teknik menjalin persahabatan yang baik.
Dan seperti biasa, aku selalu merasa penasaran dengan orang-orang unik seperti ini. Dengan demikian tidak boleh tidak aku harus mengenalnya lebih dari sekedar kenal di cyber. Dengan berbagai cara yang tentu saja harus tetap berpegang pada etika bersahabat aku berniat mengenal sosoknya bukan dalam bentuk maya, tapi wujud yang kasat mata. Hingga suatu hari terlaksanalah “niat baikku” itu. Dia berkenan menemuiku bersama belahan jiwanya. Pada waktu itu aku merasa menjadi orang yang paling beruntung bisa bertemu muka dengan dia beserta istrinya.
Kesimpulanku selama ini tentang “Kepribadian seseorang akan tetap, tidak berubah (tak bertolak belakang), baik ketika dia sedang hidup di cyber sebagai seorang chatter, maupun pada saat hidup di alam nyata sebagai manusia biasa”, belum terbantahkan. Di dunia online dia menyenangkan, apalagi di dunia offline. Di dunia nyata aku lebih merasakan sisi simpati dan empati seorang The Thin Elephant terhadap lawan bicaranya dibanding ketika berkomunikasi dengannya lewat PC.
Ada beberapa point yang barangkali bisa dijadikan alasan kenapa aku dan dia bisa langsung nyambung bila kebetulan ada waktu untuk berbincang-bincang. Poin-point itu lebih mengarah pada kesamaan minat dan hobby. Dan tentang hal ini dia pernah mengiyakannya alias setuju-setuju saja. Point-point itu di antaranya:
• Sebagai orang Sunda, di mana pun kami berada kami sama-sama sangat merindukan atmosfir yang kental ke-Sundaan-nya sebagai atribut etnis kami;
• kami sama-sama pencinta buku dan gemar membaca;
• kami sama-sama suka menulis;
• kami sama-sama berminat pada dunia cyber;
• profesi sampingan kami sama-sama sebagai chatter dan blogger.
Tak lengkap bila di sini tak diuraikan pula perbedaannya.
Dia:
• lebih kreatif;
• lebih santai dan lebih fleksibel dalam menghadapi orang-orang yang tentu saja dengan berbagai macam karakternya;
• Humoris;
• Pekerja keras;
• Tak suka publikasi tentang diri sendiri.
Aku:
• Terlalu tergantung pada mood bila akan melakukan sesuatu;
• Tidak selalu cocok bergaul dengan orang lain, oleh karena itu lebih selektif dalam memilih teman akrab;
• Tidak suka berdebat, apalagi berdebat masalah agama dan filsafat;
• Tidak bisa menulis cerita-cerita humor, barangkali karena sifatku tidak humoris;
• Suka publikasi tentang diri sendiri, dengan begitu orang bisa memandang, sejauh mana “ancurnya” seorang Pamanahrasa itu. Dan bila kebetulan mereka ditakdirkan bertemu denganku di alam nyata, tak akan timbul masalah, karena rata-rata sebelum bertemu pun mereka sudah lebih dulu kecewa akan penampilan keseluruhanku.
Tapi meskipun aku tahu betul bahwa dia tidak suka publikasi tentang dirinya sendiri, kali ini aku maksa saja untuk memperkenalkan profilnya pada para pembaca. Alasan yang paling logis atas postingan artikel ini adalah: dengan mengenal sosok The Thin Elephant, barangkali ada sebutir dua butir mutiara hikmah yang kita dapatkan dari sedikit paparan tentang pribadinya.
Catatan: Ieu tulisan bakal aya nu nurutan teu nya? Soalnya aku, karyaku, isi blogku, desain blogku, sampai sepak terjangku sudah kenyang ditiru orang!
PAMANAHRASA
resep nya banyak temen mah….tong merendahkan diri ah….kata siapa pamanahrasa hancur?…Puguh bageur mun bisa ngayoman nana mah…Saha tah the thin elephant teh? urang sunda sanes? geulis atawa kasep?……..he he he…..
Comment by si uwa — June 1, 2008 @ 9:45 pm
The Thin Elephant teh urang Sunda, kasep da pameget
Comment by pamanahrasa — June 2, 2008 @ 4:46 am
Berbanggalah kalau ada yang niru kita ( padahal terus terang sebel juga yah ….he he he) yang jelas kita ada lebihnya hingga pantas untuk ditiru, daripada pengekor….yang selalu di belakang.Membuktikan kemampuan lewat karya nyata lebih baik daripada hanya omong doang.
Comment by nia — June 9, 2008 @ 3:56 am
Hidup Bu Nia, matilah pengekor kita
Comment by pamanahrasa — June 9, 2008 @ 4:01 am
gajah kurus, hehehe.
btw, saya juga orang sunda. tapi apa ya atmosfir yang kental kesundaannya? Di rumah paling manggil Aa dan Teteh ke anak. Makanan masih suka lodeh pakis, tapi tetap senang dengan gulai padang yang pedas seuhah. Bicara sudah pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, malah istri yang keturunan sumatra lebih jago bahasa sundanya.
Teuing ah.
Comment by Iwan Awaludin — June 17, 2008 @ 5:05 am
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya di blog saya.
Comment by pamanahrasa — June 19, 2008 @ 11:54 pm