Melaju dengan Kencang

February 9, 2008

Hindari Memarahi Anak Dengan Cara Keroyokan

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 3:44 am

angry
Gambar: parisada-sumsel.org

Oleh Popon Saadah

Memarahi seorang anak yang bersalah atau yang melanggar sebuah aturan boleh-boleh saja. Bahkan bila kesalahan yang diperbuatnya itu relatif berat, marahnya orang tua kepada anak diharuskan, demi perbaikan perilaku si anak itu sendiri.
Yang harus dihindari adalah marah yang tak terkendali, membabi buta, dan tidak proporsional kepada mereka. Harus diingat, bahwa anak adalah mahluk kecil yang umurnya jauh di bawah kita, yang pengalaman hidupnya masih sangat sedikit, dan manusia kemarin sore yang masih sangat butuh bimbingan dari kita sebagai orang tuanya. Oleh Karena itu kita dituntut lebih bijaksana dalam menyikapi segala tindak tanduk keseharian mereka.
Dan marahnya kita pada mereka hendaknya bukan dikarenakan rasa dendam atau rasa benci yang mendalam, tapi harus didasarkan pada rasa kasih dan sayang. Hal ini akan sangat sulit dilakukan bila anak yang kita marahi itu bukan anak kandung, tapi anak orang lain alias murid-murid kita. Padahal justru memarahi anak orang lain akan lebih beresiko, selain harus bijaksana, kita juga harus berhati-hati dalam berucap ketika marah, sebab bila si anak laporan pada orang tuanya lalu orang tuanya salah menafsirkan kemarahan kita itu, tentu akan menimbulkan masalah baru.
Jadi ternyata marah pun ada etikanya, ada rambu-rambunya, bila kita tak ingin terjebak dalam emosi kita sendiri yang tak terkendali.
Saya menulis semua ini tidak mengacu pada referensi ilmu jiwa apa pun. Juga tidak berdasarkan pada teori seorang psikiater pun. Saya hanya mengandalkan rasa, logika, dan pengalaman yang pernah saya alami, baik ketika saya masih anak-anak yang sering kena marah orang dewasa, maupun ketika saya sudah menjadi ibu dari empat orang anak, dan menjadi guru dari ratusan murid.
Pada dasarnya semua anak di manapun berada tak pernah bermimpi akan dimarahi orang dewasa. Dan pada dasarnya pula mereka ingin dihargai sebagai seorang individu. Rupanya si anak akan berbalik hormat dan patuh pada kita bila kita pun mampu menyelami segenap perasaannya.
Sebelum kita marah, pastikan terlebih dahulu, apa kesalahan anak itu dan kenapa dia berbuat seperti itu. Dengarkanlah dengan seksama semua pengakuannya dan tanggapilah. Bisa jadi argumen yang dia lontarkan memang benar adanya.
Marahlah pada mereka sesuai dengan kapasitas kesalahannya. Jangan pernah marah dengan nada menekan, menindas, atau melucuti harga dirinya. Semua tindakan itu akan lebih melukai jiwanya dari pada tindakan fisik, sebab jiwa mereka masih rapuh, mudah goncang, dan cepat putus asa. Pada beberapa anak yang berkarakter keras, semua tindakan orang dewasa itu cenderung memunculkan rasa ingin memberontak dalam dirinya.
Marahlah pada saat mereka tidak bersama teman-temannya, serta hindari memarahi dia di depan umum. Marahlah pada mereka dengan tidak melibatkan orang lain. Jangan pernah meminta bantuan teman sejawat kita untuk ikut memarahinya.
Saya selalu merasa miris saat menyaksikan murid yang bersalah, didakwa rame-rame di ruang guru, dikeroyok dan diberondong oleh cacian dan makian beberapa orang guru. Padahal yang berkepentingan menangani masalah anak tersebut hanya dua orang saja, yaitu wali kelasnya dan guru BP. Seandainya para guru tersebut ingin ikut andil menyelesaikan permasalahan si murid, saya kira bukan begitu caranya. Kita sendiri pun yang sudah dewasa belum tentu tahan menghadapi bentakan banyak orang. Karena itu jangan heran bila murid tersebut bukannya tunduk atau patuh, malah melawan dengan balik menghardik salah seorang di antara ibu gurunya. Semua itu dia lakukan barangkali sebagai pertahanan dirinya yang terakhir. Masih untung murid tersebut tidak berkata seperti ini, “Kok beraninya keroyokan, sih? Coba sini maju satu-satu deh!”
Padahal kita sebagai pendidik, tentu lebih tahu, bahwa ada cara marah yang lebih elegant, terhormat, dan intelek, yaitu dengan mengajak si anak tersebut ke ruangan khusus, ruang BP misalnya. Lalu proseslah di tempat itu. Kemudian berilah pengarahan-pengarahan bijak, agar si anak menyadari kekeliruannya dan tidak muncul rasa dendam. Untuk apa ada badan Bimbingan dan Penyuluhan, bila cara penyelesaian masalah siswa masih seperti itu. Fungsikanlah guru BP sebagai mana mestinya!!

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://pamanahrasa.blogsome.com/2008/02/09/hindari-memarahi-anak-dengan-cara-keroyokan/trackback/

  1. Mungkin itu yang namanya power sindrome, atau budaya ” LATAH ” yang ingin mereka lestarikan. Jadi mereka beranggapan kalau gak ikut marah ntar dianggap AUTIS….Tapi buatku biar deh dianggap Autis ….daripada jadi Mrs. Nimbrung

    Comment by nia — February 13, 2008 @ 2:45 am

  2. Hindari Memarahi Anak Dengan Cara Keroyokan

    Bagaimana kalo bergilir bergantian….????

    Comment by g13b50n — April 25, 2008 @ 5:37 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.