Gorila itu Bernama Neger_i

Satu lagi teman cyber-ku yang misterius, neger_i.
Awalnya aku beranggapan id-nya sungguh tidak menarik untuk disapa oleh lawan chatting dan kurang bermakna. Sempat pula aku tanyakan, kenapa dia menggunakan id yang kurang persuasif itu untuk chatting di YM, jawabannya, “Biar seru aja, beda dari yang lain!”
Entah sudah berapa lama aku dan orang Jakarta ini menjalin persahabatan di alam sana. Aku tak pernah ingat. Yang jelas, hubungan pertemanan kami sampai hari ini datar-datar saja, tak ada riak yang berarti, apalagi gejolak yang bisa memicu pertengkaran. Istimewanya, dia pantang mengetik kata-kata bersayap, apalagi kalimat-kalimat gombal yang biasa dijadikan senjata ampuh oleh pria playboy cap dua anting untuk menaklukkan hati para chatter perempuan.
Obrolan kami pun sedatar jalan raya, selurus jalan kereta. Seolah-olah kami berdua selalu siap dengan penggaris panjang, untuk berjaga-jaga bila percakapan kami melenceng ke luar jalur. Tapi bukan berarti kami tak pernah sharing. Pernah juga, tentang problem hidup. Dan kami berusaha untuk saling memberi saran dengan tidak melibatkan banyak perasaan. Ya, yang logis-logis saja. Tak jarang pula kami tak saling menyapa. Bukan karena sedang berselisih paham, tapi karena memang sedang tidak ingin mengganggu keasyikan masing-masing.
Menurutku pada waktu itu, hadir atau tidak hadirnya dia di list-ku, tak ada pengaruhnya buatku. Tapi, ketika tahun lalu Jakarta dilanda banjir besar, dan dia menghilang untuk beberapa lama, aku sempat merasa khawatir, takut dia hanyut terbawa air bah, dan aku merasa sangat kehilangan. Kemunculannya kembali di YM, menyadarkan aku, bahwa ternyata dia begitu berarti untukku, paling tidak, dengan seringnya dia chatting denganku, dia sudah membantu melatih tanganku mengenal keyboard komputer lebih dekat, serta menambah tebalnya lembaran kisah pertemanan kami.
Email-email yang dia kirim kepadaku cukup bermutu, berisi artikel-artikel yang layak muat di blog. Bukan email yang berisi tentang curahan perasaan pria cengeng yang memelas mengharap belas kasihan.
Lama-lama aku jadi hapal dengan kebiasaannya (di cyber), seperti hobby-nya memasang pic wajah seekor gorila bule yang sedang nyengir, atau yang sedang memandang sinis ke arahku, sehingga aku jadi tahu bahwa wajah gorila juga bisa mempesona. Kebiasaannya yang lain yaitu menghemat kata, mengetik kalimat-kalimat pendek, seperti takut kehabisan tinta. Pola kalimatnya pun hampir sama dari hari ke hari, sebagai contoh: apa kabar? lagi ngapain? sudah makan? Icon-icon yang dia lempar pun icon-icon yang sopan, seperti icon tersenyum, nyengir, tertawa, tertawa sambil berguling-guling…atau paling banter icon yang hendak memeluk.
Kebiasannya itulah yang memunculkan kecurigaanku, jangan-jangan dia bukan manusia. Boleh jadi dia itu robot, mesin komputer, atau… roh yang sedang gentayangan. Jika dugaanku itu betul, alangkah malangnya diriku, berarti selama ini aku selalu berbagi rasa dengan mahluk yang tak bernyawa, iiiiyyyy….ngeri……
Satu hari aku ajukan juga rasa kepenasaranku itu padanya, “Kamu ini robot, mesin , atau roh penasaran?” Tolong tunjukkan satu bukti saja bahwa kamu ini manusia biasa seperti aku!” Selesai mengirim pesan ke folder-nya, tiba-tiba ponselku bergetar, terdengar suara seorang laki-laki di seberang sana.
“Akulah pria misterius itu!”
“Oh ya?” Jawabku sambil terkaget-kaget. Bicara di ponsel pun dia tak mau panjang, alasannya tenggorokannya sedang serak. Rasa waswasku hilang seketika, karena terbukti dia bukan mahluk menyeramkan seperti yang pernah aku bayangkan. Dia hanyalah seorang/seekor manusia gorila.
Yang jadi pertanyaanku sekarang, kenapa dia mengetahui nomor ponselku? Kapan aku memberikan nomor ponselku padanya? Kalau begitu, berarti dia sudah termasuk sahabat dekatku, buktinya, nomor ponselku sudah berada di tangannya!***
PAMANAHRASA
ehmmmmmmmmm jadi nggak bisa ngomong saya yaaa ngebaca tulisan diatas, anyway makasih deh buuu and keep writing.
Comment by Anonymous — December 18, 2007 @ 5:25 am
Makasih banget kamu dah mo nulis di sini, satu kehormatan buat aku. Sapa bilang kamu ga bisa nulis, itu…bagus tuh
Comment by pamanahrasa — December 19, 2007 @ 6:20 am