Melaju dengan Kencang

November 29, 2007

Pelajar dan Ponsel

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 2:15 am

media

Oleh Popon Saadah

Untuk saat ini ponsel bukanlah barang yang dianggap mahal dan bergengsi. Benda ini sudah begitu memasyarakat, dikenal oleh berbagai lapisan sosial dalam berbagai usia. Fungsinya pun sangat variatif, tergantung siapa yang memilikinya. Ada orang yang benar-benar memfungsikan ponsel sebagai alat yang sangat vital untuk mempermudah menjalin komunikasi dengan rekan bisnisnya. Ada yang memperlakukan ponsel sebagai benda yang setia setiap saat dalam membantu dirinya menghubungi siapa saja pada saat tertentu.
Untuk anak-anak ABG, ponsel bisa diartikan sebuah media yang bisa diajak “bermain” dan bersosialisasi. Untuk mereka, ponsel juga bisa berarti sebuah prestise. Bila ponsel yang dia miliki itu keluaran terbaru dengan fitur dan pasilitas yang lengkap, artinya dia sedang memaknai prestise, sedang memaknai apa artinya “kebanggaan” itu. Orang-orang seperti ini biasanya berpandangan, bahwa salah satu cara menaikkan gengsi adalah dengan memiliki ponsel termahal.
Dan kita pun mafhum, bahwa setiap produk teknologi canggih selalu mempunyai dua sisi yang berlawanan, yaitu sisi positif dan negatif. Dan yang menentukan kedua sisi itu adalah pemilik produk itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui, ponsel pun telah digunakan berjuta orang pada sisi negatifnya. Barangkali itulah konsekwensi yang tidak bisa dihindari oleh kita semua. Tapi meskipun tak bisa dihindari, bukan berarti kita membiarkan saja, tak berusaha meminimalisir penggunaan ponsel pada sisi negatif itu. Bila kita seorang ayah atau ibu dari anak-anak kita, kita berkepentingan dalam memikirkan usaha-usaha meminimalisir sisi segatif sebuah ponsel. Bila kita seorang pendidik dari ratusan murid, juga berkepentinggan memikirkan masalah ini. Sebab kita mengetahui dengan pasti, pada saat ini di dalam ponsel-ponsel anak-anak dan murid-murid kita bersembunyi sesuatu yang membahayakan moral dan jiwa mereka. Pada saat ini berseliweran video-video porno dari ponsel yang satu ke ponsel yang lain, dan dikonsumsi oleh ratusann bahkan mungkin ribuan pelajar.
Fenomena ini akan sulit diatasi bila kita sebagai orang tua tidak mempunyai kepedulian untuk meminimalisir sampai kepada memberantasnya. Yang tampak ke permukaan sekarang adalah sikap acuh tak acuh kita sebagai orang tua dan sebagai pendidik terhadap masalah ini. Tapi akan sia-sia saja bila yang berusaha mencegah tersebarnya video porno itu hanya satu pihak atau hanya beberapa gelintir orang. Pekerjaan yang sungguh tak akan ada hasilnya bila di satu sisi para guru melarang siswa membawa ponsel ke sekolah, sementara orang tuanya dengan sengaja memfasilitasi dan menghadiahi anak-anaknya dengan barang tersebut. Akan sia-sia pula usaha guru-guru menjauhkan anak-anak didiknya dari video-video itu, bila kepala sekolahnya dan para pejabat yang bergerak di bidang pendidikan tidak beritikad menangani sampai tuntas masalah ini.
Bila saat ini kita menyaksikan video porno tersebar dan tersimpan rapi di ponsel anak-anak kita, jangan salahkan mereka, karena mereka bukanlah pelaku utama dari fenomena ini, mereka hanyalah korban, korban dari kelalaian dan kecerobohan kita sebagai pelindung mereka.
Barangkali solusi yang pantas dipikirkan adalah adanya kerja sama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Kerja sama yang baik di sini berarti kerja sama yang benar-benar terjalin dengan baik. Tidak saling melempar tanggung jawab. Tidak bertentangan dalam bersikap. Demi masa depan generasi penerus kita, idealnya para orang tua harus tega, tidak memberikan ponsel pada anak-anaknya. Pihak sekolah harus berani menerapkan aturan tentang larangan membawa ponsel ke sekolah untuk para siswanya, dan bila para siswa melanggar aturan tersebut, harus ada sanksi yang jelas dan keras. Aturan dan hukuman yang dijalankan secara konsekwen serta konsisten akan melahirkan kewibawaan.
Bila ada pihak yang keberatan dengan tindakan tersebut, berarti dia merelakan generasi muda kita diracuni oleh hal-hal buruk yang memang sudah menggerogoti pribadi-pribadi mereka sudah sejak lama. Terpuruknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita pada saat ini bisa jadi salah satunya diakibatkan oleh tak adanya keinginan dan ketegasan kita para orang tua dalam memberantas hal-hal buruk yang tampak di depan hidung kita.
Bila kita sebagai orang tua mau berkata jujur, sebenarnya ponsel itu bukan benda penting yang harus dimiliki pelajar, bukan pula benda yang dirasakan vital dan memberi banyak mafaat untuk dirinya. Malah menurut pengamatan kita, mereka cenderung menggunakan ponsel untuk pekerjaan yang mubadzir, seperti ber-sms yang isinya sama sekali tidak menimbulkan pencerahan, atau menghabiskan pulsa dengan ngobrol ngaler ngidul melalui ponsel tersebut, yang berarti pemborosan. Lebih mengkhawatirkan lagi bila mereka menggunakan benda itu untuk hal-hal negatif, seperti bertukar informasi ketika sedang melaksanakan ulangan di dalam kelas, dan kegiatan negatif lainnya seperti sudah diuraikan di atas.
Bila kita semua sebagai orang tua dan guru asyik dengan urusannya masing-masing, tidak peka pada permasalahan mereka, tak peduli, lalai, dan tak ada itikad yang kuat menangani masalah ini, bersiap-siaplah untuk kehilangan pamor dan wibawa kita di hadapan mereka, atau bisa jadi memang kita semua sudah tak punya wibawa lagi sudah sejak lama?

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://pamanahrasa.blogsome.com/2007/11/29/pelajar-dan-ponsel/trackback/

  1. Kaya geng motor aja jadinya….kalau udah ada kejadian rame…ortu tu pasti melindungi anaknya deh… kan tandanya sayang ama anak ;) )

    Comment by Xtrada — November 29, 2007 @ 6:18 am

  2. Ceuk urang Sunda mah “ulah nyaah dulang”.

    Comment by Roban — March 24, 2008 @ 2:29 pm

  3. Sesah tuda di urang mah Yi. Tiap masalah hese ngabeberesna. Seperti lingkaran setan.

    Comment by pop_ice — March 25, 2008 @ 12:38 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.