Aku

Gambar: id.wikipedia.org
Karya Yanusa Nugroho
“Nama?”
“Ahmad..”
“Pekerjaan?”
“Kan, ada di situ?”
“Saya tanya sama kamu, bukan mau membaca yang tertulis di sini..”
“Hmm.. saya penjual buah..”
“Tapi di sini ditulis ‘pedagang’.”
“Lantas apa bedanya? Saya penjual buah di Blok A..”
“Beda. Penjual buah, itu tertentu. Pedagang, .. bisa dagang apa saja.. ya, kan?
“Pak.. saya mau kulak buah ke Kramat Jati.. Tolonglah, nanti saya bisa kehabisan..”
“Yang menentukan bukan kamu. Status perkawinan?”
“Kawin.”
“Punya anak?”
“Punya.”
“Berapa?”
“Hmmm.. 5.”
“Umur?”
“Saya lahir tahun 70, Pak.. kira-kira saya umur berapa?”
“Saya tidak tanya itu. Umur?”
“Tiga puluh tiga tahun..”
“Kok, sudah punya anak lima?”
“…..”
“Kok, diam? Jawab, dong..”
“Apa urusannya, Pak?”
“Kamu tidak perlu tahu. Cepat jawab dan urusanmu selesai.”
“…….”
“Jadi, kenapa umur tiga puluh tiga tahun, sudah punya anak lima?”
“Saya kawin umur dua puluh, Pak..”
“Tiap tahun istrimu melahirkan?”
“…….”
“Jawab, dong..”
“Tiap dua tahun, Pak..”
“Kenapa tidak ikut KB?”
“Urusan saya, dong, Pak..”
“Ini urusan nasional. Negara ini sudah kebanyakan penduduk. Makanya, dilarang punya anak banyak-banyak.. Ngerti?”
“Ngerti, Pak..”
”Alamat rumah?”
“Kampung Sawah, RT 03 RW 011, nomor 43..”
“Di sini di tulis nomor 45..”
“Salah ketik, Pak..”
“Siapa yang ngetik?”
“Kelurahan, Pak.”
“Kenapa tidak protes?”
“Sudah.”
“Buktinya masih salah..”
“Kelurahan, kan, selalu begitu..”
“Jangan menyalahkan orang lain, kalau kamu protes, kan diperbaiki.”
“Sudah, Pak. Tapi tetap saja salah..”
“Kamu jangan membantah terus..”
“Tidak, itu kenyataan Pak..”
“Kamu mau menang sendiri?”
“Tidak, Pak..”
“Kok, kamu ngotot?”
“…….”
“Agama?”
“Islam.”
”Bukan cuna di KTP, ya?”
“……..”
“Saya tanya, kamu kok diam saja..”
”Maksudnya bagaimana, sih?”
“Kamu marah, ya? Melawan petugas?”
“Tidak, Pak, ampuuun.. maaf, Pak..maaf..”
“Sialan, ditanya baik-baik, ngelunjak, kamu..”
Laki-laki kurus itu terduduk di tanah. Hidungnya berdarah. Seorang petugas menggantikan temannya dan mulai menanyai laki-laki itu.
“Kamu kenal sama Jumadil?”
“Ss..siapa, Pak?”
“Jangan pura-pura budek, ntar budek beneran, kamu. kenal.Jumadil!”
“Tidak, Pak..”
“Jangan bohong!”
“Sumpah, Pak. Saya tidak kenal nama itu..”
“Sekali lagi, jangan bohong. Kenal, nggak?”
“Nggak, Pak..”
“Plak!”
“Kenal, nggak?”
Nggak, Pak?”
“Plak!”
“Kenal, nggak?”
“…terserah, Bapak, deh.. Saya jangan digebukin, Pak..”
“Kalau kamu ngaku dari tadi, kan, saya tidak usah mukul kamu. Dasar kebo, maunya dipukul, baru ngaku.. Jadi kamu kenal sama Jumadil?”
“Ya, Pak..”
“Sudah lama kenal?”
“Belum, Pak..”
“Di mana kenalnya?”
“Lupa, Pak..”
”Kok bisa lupa?”
“Lupa, Pak..sungguh..”
“Kamu mau ke mana?”
“Ke Kramat Jati, Pak, kulak buah..”
“Buah apa?”
“Nanas..”
“Untuk apa?”
“Dijual, Pak..”
”Kamu penjual buah?”
“Betul, Pak..”
”Jumadil juga penjual buah?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Kok, bisa kenal?”
“Saya ndak tahu, Pak..”
“Tidak tahu atau tidak ingat?”
“Ss..saya.. jj..jangan dipukul, Pak.. ampuun, ampuun..”
“Tidak tahu, atau tidak ingat?”
“Ampun.. ampun.. saya orang kecil Pak.. kasihan anak bini saya, Pak.. ampuun..”
Dan lars pun manderapkan mars. Maka patahlah iga. Pecahlah tangis dan rintihan. Malam aneh. Malam penuh halimun licik. Entah apa yang dihadapinya, tak ada yang peduli. “Nih, minum dulu..”
“Terima kasih, Pak..”
“Sekarang saya mulai dari awal lagi. Nama?”
“….Ahmad.”
“Ahmad siapa? Masak, Cuma Ahmad?”
“Ahmad Sodik..”
“ahmad, pakai ‘ha’ atau pakai, ‘ka-ha’..?”
“Pakai ‘ha’, Pak?”
“Hmm.. sudah kawin?”
“Sudah, Pak..”
“Punya anak?”
“Lima, Pak..”
“Lahir?”
“Sebelas Maret satu sembilan tujuh puluh, Pak..”
“Kok, aneh?”
“………?”
“Saya tanya, kok, aneh?”
“Apanya, Pak?”
“Tanggal lahirmu?”
“Kenapa, Pak?”
“Kenapa sebelas Maret? Kenapa tidak dua belas, atau tiga belas?”
“…???”
“Hei, kamu belum menjawab pertanyaan saya?”
“Ss.. saya musti jawab apa, Pak?” laki-laki itu terisak. Hatinya tertusuk, nuraninya tersayat, harga dirinya terkoyak.
“Jawab, gitu aja, nangis. Cengeng!”
“Bapak keterlaluan.. Untuk apa nanya-nanya kaya gini.. Bapak tahu, ini kan konyol, Pak.. Kalau Bapak mau tembak saya, tembak saja. Ini.. tembak saja, Pak..”
Para petugas tersentak. Embun dingin di luar. Sunyi mendadak menyergap. Laki-laki itu berteriak-teriak menentang. Tak dirasakannya asin darahnya sendiri. Tak dirasakannya perih lukanya sendiri. Dia hanya tegak menantang, matanya nyalang.
“Kalau kamu tidak diam, saya tembak kamu..’
“Silakan.. coba kalau berani, tembak saja. Buat apa saya susah-susah cari makan, kerja seperti binatang, kalau cuma untuk dihina seperti ini.. Ayo, silakan.. percuma kalian beli senjata mahal-mahal dari luar negeri, kalau bukan untuk nembakin bangsanya sendiri.. Ayo, tembak!”
Para patugas itu terdiam. Komandannya mendekat dan memerintahkan anak buahnya menjauh.
Mereka bergerak dengan cepat, seperti tikus got di kegelapan. Ditinggalkannya laki-laki luka itu, yang masih berteriak-teriak seperti orang gila.
Di mata laki-laki itu, terbayang anak-anaknya yang lelap. Istrinya yang mungkin tengah menyusui si bungsu. Lapak buahnya yang msih kosong, menunggu belanjaan malam itu. Besok akan ada layar tancap, mungkin saja tukang rujak atau tukang asinan tetangganya akan membuat dagangan dari buah yang dibelinya.
Seumur hidup, dia tak pernah membayangkan semua ini terjadi. Ingin rasanya dia merampas salah satu senjata yang disandang petugas itu, lalu.. Laki-laki itu menangis. Dia tak pernah tahu apa yang akan diperbuatnya, seandainya senjata itu ada di tangannya. Jangankan menembakan pelurunya, apalagi sampai melukai manusia, sedangkan menyambelih ayam untuk selamatan pun dia tak tega.
Malam merambat menjelang fajar. Laki-laki itu masih saja duduk di kelamnya aspal. Embun membasahi aspal hitam, seakan memberikan sedikit kesejukan di kemarau September.
Tubuhnya lelah. Jiwanya lelah. Lambungnya perih. Bibirnya perih. Matanya berdarah, mulutnya berdarah. Uangnya, entah raib kemana, dia tak tahu. KTP?
Laki-laki itu mulai gelisah, dimanakah KTP-nya? Ah, jangan-jangan dibawa setan belang itu? Laki-laki itu kian gelisah dan putus asa. Sebentar lagi memang fajar, matahari akan bersinar dan hari akan berganti. Tetapi, tanpa KTP, dia akan menghadapi hari-hari yang kian tak menentu.
Dia membayangkan dirinya adalah seekor musang yang diburu di malam hari. Dia membayangkan dirinya adalah tikus got, yang sial dan menjadi sasaran tembak ‘pemburu’ kampung. Lalu bagaimana jika dia harus menyekolahkan anak-anaknya nanti? Dia harus menyediakan 100 ribu rupiah untuk membuat KTP baru, itu pun kalau orang kelurahan itu mau, kalau tidak?
Laki-laki kurus merasakan pundaknya melengkung, menahan beban yang luar biasa besar. Kilatan ingatannya menyambar-nyambar. Seraut wajah anak-anak membacakan teks proklamasi di upacara sekolah pagi hari. Padamu Negri mengalun di aubade tujuh belasan di sekolahnya.
Dengan menahan pedih di sekujur jiwa-raganya, laki-laki itu bangkit. Dia harus pulang mengatakan apa adanya pada orang rumah. Apapun yang di alaminya, dia harus menyampaikan pada anak-anaknya, agar mereka menjadi manusia yang jauh lebih kuat. Kuat menghadapi apapun, termasuk menahan diri untuk tidak melukai orang lain.
Angkot berseliweran. Jalanan ramai. Ojek sudah lalu lalang. Laki-laki itu ke mushola, membasuh luka-lukanya, mencoba menentramkan diri dan mencari jalan untuk bisa sampai ke rumahnya.
Pinang, 1982
(Dari kumpulan cerpen Jakarta City Tour, Karya FX. Rudi Gunawan, dkk.)
PAMANAHRASA
Apakah artikel diatas itu benar terjadi? kenapa para penjaga keamanan, yang seharusnya membela rakyat kecil, disini malah melukai dan menyiksa, baik raga maupun jiwa?…ah I dont get it….poor rakyat kecil…semoga Allah lah yang akan melindungi kalian….amiinnnn
Comment by fz — July 12, 2007 @ 2:33 am
Karangan di atas bukan artikel, tapi cerita pendek. Setiap cerita itu diambil dari kehidupan realita. Jadi sangat mungkin semuanya pernah atau bahkan sering terjadi di sebuah negeri yang para penguasanya menggunakan sistim pemerintahan militerisme. Senang menindas kaum lemah. Aku rasa mereka itu orang-orang yang gila hormat, dan sedang mengalami gangguan jiwa yang akut. Semoga kita dijauhkan dari sifat arogan dan senang melakukan kesewenang-wenangan terhadap sesama mahluk. Naudzubillahimindzalik.
Comment by pamanahrasa — July 12, 2007 @ 3:57 am