Melaju dengan Kencang

May 16, 2007

Orang dan Bambu Jepang

Filed under: Artikel Tamu - pamanahrasa @ 2:48 am

ajip rosidi

Oleh Ajip Rosidi

Salah satu “rahasia” manajemen Jepang seperti yang sering ditulis oleh para ahli ialah bahwa dalam mengambil keputusan memerlukan waktu yang lama, karena segala sesuatu dibahas bersama oleh mereka yang akan terlibat dengan keputusan tersebut, termasuk para pegawai rendahan di tingkat bawah. Dengan demikian meskipun mrngambil waktu pada waktu pengambilan keputusan , namun kalau sudah diputuskan pelaksanaannya akan berjalan lancar, karena semua orang yang terlibat telah tahu mengenai hal itu dan mereka menempatkan diri tepat pada peranan yang dikehendaki.
Hal itu berlainan dengan manajemen gaya Barat, yang memberi hak kepada eksekutif paling atas untuk mengambil keputusan tanpa mendengarkan pendapat bawahannya. Pengambilan keputusan dalam gaya manajemen Barat dilaksanakan dengan cepat, tetapi pada pelaksanaan operasionalnya sering menemukan hambatan karena orang-orang bawah yang menjadi pelaksananya sering belum tahu apa-apa tentang apa yang harus dikakukannya.
Cara pengambilan keputusan manajemen gaya Jepang itu sesuai dengan sifat orang Jepang yang dalam segala hal selalu ingin berkelompok, dan dengan demikian bermusyawarah dahulu dengan kawan-kawannya sebelum melakukan sesuatu. Selalu merasa perlu berkelompok tampak secara mencolok di tempat-tempat wisata. Biasanya orang Jepang berwisata dalam kelompok, mengikuti pengantar-wisata yang membawa bendera kecil sebagai pertanda bagi semua anggota rombongan. Ke mana bendera itu pergi, seluruh rombongan mengikuti. Memang belakangan banyak anak muda, terutama mahasiswa, yang bepergian dalam kelompok kecil, dua-tiga orang saja, namun jumlah yang bepergian dalam rombongan yang lebih besar masih tetap dominan.
Kebiasaan itu barangkali dapat dihubungkan dengan pendapat yang dikemukakan oleh ahli sosiologi Jepang terkemuka Chie Nakane dalam bukunya Japanese Society (1967), yaitu bahwa orang Jepang selalu menempatkan dirinya dalam sebuah uchi (=rumah). Dalam hal ini organisasi atu kantor bisa juga merupakan uchi, rumah. Dalam rumah, setiap anggota keluarga mendapatkan kedudukan yang sudah tetap: Ayah sebagai yang paling tinggi, kemudian anak sulung laki-laki (Chonan), anak laki-laki, ibu dan anak perempuan. Dan kedudukan itu dipetahankan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya waktu membagi nasi ketika makan, giliran ofuro (mandi berendam dalam bak kamar mandi) dan lain-lain. Melanggar kebiasaan itu dianggap tidak baik dan merupakan aib. Setiap orang menganggap dirnya bagian dari uchi itu, sehingga merasa harus membelanya kalau menghadapi ancaman dari luar.
Tidak lama setelah surat kabar terkemuka di Inggris Daily Mirror gulung tikar karena manajemennya hendak mengganti percetakannya dengan yang lebih modern dan lebih efisien, (sehingga akan banyak buruh percetakan yang akan di-PHK-kan dan hal itu menimbulkan perlawanan dari serikat buruh percetakan yang mengadakan pemogokan yang menyebabkan akhirnya surat kabar itu bangkrut), saya membaca berita bahwa surat kabar Asahi Shimbun di Jepang berhasil dengan sukses mengganti percetakannya dengan yang lebih modern dan lebih efisien. Saya bertanya dalam hati, mengapa kasus yang sama di Inggris menyebabkan kebangkrutan tetpi di Jepang berhasil dengan sukses.
Ternyata, pimpinan manajemen Asahi Shimbun sebelum mengganti percetakan telah memikirkan nasib buruh percetakan yang akan di-PHK-kan dan untuk itu mereka membentuk perusahaan baru untuk menampungnya. Maka ketika percetakan yang modern dan lebih efisien dijalankan, tak ada yang di-PHK-kan. Dalam hal ini memang terdapat perbedaan dasar falsafah perusahaan Inggris (Barat) dengan Jepang. Hubungan perusahaan dengan pekerja di barat semata-mata berdasarkan kontrak yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak tapi tak lebih dari itu. Supir bis di Belanda misalnya tak mau mengurus karcis atau uang ongkos dari penumpang, karena menganggap kewajibannya sebgai supir hanya mengemudikan bis, ada pun mengurus uang tidaklah termasuk kewajiban supir. Karena kondektur tidak ada, maka setiap penumpang bis di negeri Belanda harus mempunyai karcis (Strippen kaart) sebelum naik dan ia pun harus tahu berapa strip yang diperlukan untuk memcapai tujuannya, kalau kurang dan kepergok kontrolir dia bisa didenda. Sedang supir bis di Jepang dengan tidak banyak cingcong menjalankan tugas kondektur mengurus karcis dan uang ongkos penumpang. Dalam bis kota atau trem kota yang disebut wanmanka (one man car), supir merangkap kondektur dan menjinjing tabung uang penumpang kalau tugasnya selesai untuk mempertanggung jawabkannya.
Hal itu bisa terjadi karena hubungan antara pegawai dengan perusahaan di Jepang tidaklah semata-mata hubungan kontrak kerja, melainkan hubungan keluarga dalam uchi. Pimpinan manajemen dalam menjalankan kebijaksanaan perusahaan memikirkan nasib semua pegawai yang merupakan anggota uchi-nya. Dari para pegawai dalam melaksanakan kewajibannya memikirkan juga kelangsungan hidup perusahaan. Maka kalau keadaan memburuk karena pengaruh situasi ekonomi dunia misalnya, mereka pun tidak keberatan penghasilannya dikurangi sementara ia harus bekerja lebih keras. Hal itu bisa terjadi, karena pegawai menganggap dirinya merupakan bagian dari uchi-nya, yaitu dari perusahaannya, sehingga merasa wajib pula memikirkan dan kalau perlu berkorban demi kelangsungan hidup perusahaan. Perbedaan filsafat dasar perusahaan ini merupakan perbedaan yang esensial di antara manajemen Barat dan manajemen Jepang. Direktur perusahaan Honda di Amerika (orang Jepang) pernah menyatakan keheranannya karena pegawai (orang Amerika) yang diangkatnya dan dididiknya sehingga mempunyai keterampilan tertentu, ternyata kemudian pindah ke perusahaan lain yang menjanjikan gaji lebih tinggi. Honda san sang direktur itu mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Bagaimana mungkin dia berbuat seperti itu? Tak masuk akal!”
Memang tak masuk akal buat orang Jepang tapi wajar bagi orang Amerika. Orang Jepang sekali masuk perusahaan umumnya akan terus bekerja di situ sampai pensiun. Sedangkan orang Amerika bekerja berdasarkan kontrak dari tahun ke tahun. Setiap akan habis kontrak, mencari kemungkianna pindah ke perusahaan atau organisasi lain yang menjanjikan gaji lebih baik. Perasaan ikut memiliki atau menjadi bagian dari organisasi tempatnya bekerja yang ada pada orang Jepang tak terdapat pada orang Amerika. Memang belakangan ini hubungan kerja seumur hidup banyak dikritik di Jepang dan banyak anak muda yang tidak mau mengikat hidupnya hanya dengan sebuah perusahaan dan memilih hidup bebas. Menjadi furita (freeter) sekarang mulai disukai oleh anak-anak muda. Mereka mencari nafkah dengan bekerja sambilan di perusahaan mana saja dan hanya pada waktu yang mereka sukai saja. Mulai ada juga sarariman (salary man) yang pindah-pindah tempat kerja mengikuti cara orang Amerika. Adanya kecenderungan itu niscaya akan mengubah juga sifat dan sistim manajemen Jepang kelak.
Mungkinkah hal itu juga akan mengubah sifat orang Jepang yang suka berkelompok dan menyesuaikan diri dengan sifat pohon bambu di Jepang? Berlainan dengan di Indonesia yang manusianya lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada kelompok atau bangsanya), bambu di Jepang tumbuhnya tidak merumpun, melainkan individualistis. Karena itu tidak bisa menyebut “serumpun bambu”, karena rebung di Jepang selalu muncul jauh dari akar induknya. Di Indonesia bambu selalu selalu tumbuh berumpun, sedangkan orang-orangnya lebih individualistis, lebih memikirkan kepentingan pribadinya daripada kepentingan kelompok atau bangsanya. Sebaliknya orang Jepang, yang bambunya tumbuh individualistis dan tidak berumpun, lebih solid sebagai kelompok dan sebagai bangsa. Di antara mereka sendiri tentu ada persaingan bahkan sampai menimbulkan stress, tetapi begitu menghadapi orang luar, mereka akan bersatu.

(Dikutip dari buku Orang dan Bambu jepang, Karya Ajip Rosidi).

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://pamanahrasa.blogsome.com/2007/05/16/75/trackback/

  1. Dengan sistem Jepang kemungkinan korupsi sangat kecil.Indonesia menganut sistem Barat,sehingga korupsi di mana2.

    Comment by Roban — March 24, 2008 @ 2:48 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.