Sebuah Impressi untuk Seorang Chatter

Dia chatter sejati. Setidak-tidaknya itu menurut pendapatku. Id-nya selalu menyala, mungkin di mana-mana, di list aku, di list teman-temannya, di list para penggemarnya, atau di salahsatu chatroom regional maupun internasional. Mengenalnya sama artinya dengan mengenal dunia cyber. Bercanda dengannya sama artinya dengan bercanda bersama komputer yang sedang kita operasikan. Menyenangkan. Tak membuat kita bosan. Malah kadang-kadang membuat kita penasaran tentang dia punya angan-angan.
Dia chatter sejati, setidak-tidaknya itu menurut pendapatku. Kepribadiannya sungguh unik. Mungkin jiwanya terdiri dari formula seperti ini: 90% logika dan 10% rasa. Sepertinya dia hampir tidak pernah terjebak dalam emosi jiwa yang meluap atau meletup-letup. Semua masalah dianggapnya gurauan ringan, Ingat dia berarti ingat telaga, yang hanya beriak bila tersentuh angin, baik angin yang sepoi-sepoi maupun yang lajunya menderu-deru.
Bila aku membagi keresahan padanya untuk ditampung di wadahnya yang sering dipakai menadah problem-problemku, dia menjelma menjadi air. Ya, air. Air putih dan dingin yang menyejukkan kerongkonganku yang kehausan. Air bersih dan bening yang kebeninganya menyaingi embun, yang biasa menyiram tanaman strawberry yang hampir layu karena kekeringan untuk kemudian menjadi segar.
Dia chatter sejati. Setidak-tidaknya itu menurut pendapatku. Darinya aku belajar banyak hal: tentang kerendahan dan kelurusan hati, tentang persahabatan yang hakiki, tentang kesetiaan pada pasangan hidup, tentang kebersahajaan, sampai kepada urusan trik-trik khusus untuk berspekulasi dalam chatting. Satu nasihat yang dia berikan ketika aku berniat undur diri dari Yahoo Messenger: “Chattingnya boleh berhenti, tapi teknologinya jangan pernah dijauhi!”
Jangan pernah pula menganggap tulisanku ini tak aktual dan tak faktual, sebab dia bukan sosok yang hanya hidup di cyber seperti layaknya id-id yang bertengger di list-ku. Dia bukan sosok yang hanya hidup dalam imajinasiku, bukan pula sosok yang hanya menghiasi mimpi-mimpiku. Dia nyata. Dia berwujud. Sosoknya terdiri dari sekumpulan tulang, daging, urat, darah, kulit, kuku, rambut, serta segenap semangat yang berkolaborasi dengan rohnya. Kesimpulannya, dia bisa diraba dan dirasa. Kesanku setelah berjumpa dengannya di alam nyata: dia memang ayah yang ideal untuk anak-anaknya.
PAMANAHRASA
ada yang kurang kayanya tuh …. ada banyak yang merindukannya juga
)
Comment by Tibelat — November 8, 2006 @ 8:22 am
Selamat Percaya Diri aja, sebab PD itu adalah salah satu modal hidup!!
Comment by pamanahrasa — November 10, 2006 @ 12:33 am
betulllll…..memang dimanapun kapanpun…segalanya pun aja harus PD
Comment by Tibelat — November 13, 2006 @ 12:25 am