Melaju dengan Kencang

September 15, 2006

“Ayat-Ayat Cinta”

Filed under: Resensi Buku - pamanahrasa @ 4:54 am

best seller

Oleh Popon Saadah

DATA BUKU
Judul: Ayat-Ayat Cinta
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika, Jakarta, 2006
Cetakan: XII, 2006
Halaman: 419 halaman

“Ayat-ayat Cinta”, novel karya Habiburrahman El Shirazy memang bukan buku baru, tapi rasanya saya perlu memublikasikannya di blog ini dalam bentuk resensi.
“Ayat-ayat Cinta”, Sebuah novel yang sarat dengan ilmu ke-Islaman dan pesan moral, yang oleh pengarangnya dikemas dalam rangkaian kata-kata serta kalimat-kalimat indah sehingga menjelmalah menjadi karya sastra bermutu dan menarik.
“Ayat-ayat cinta” bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang sedang menuntut ilmu di universitas Al Azhar Mesir sambil bekerja sebagai penerjemah untuk sebuah penerbit di Indonesia. Dia seorang yang haus akan ilmu pengetahuan terutama tentang keislaman yang dasar-dasarnya sudah dia dapatkan sejak kecil di berbagai tingkatan pesantren di tanah air.
Di Mesir dia tinggal di sebuah flat, satu kamar dengan empat orang temannya yang semuanya orang Indonesia, hanya berbeda suku. Sebagai sama-sama orang perantauan, mereka hidup bak saudara kandung.
Dari awal sampai akhir novel ini menggunakan tuturan orang pertama, Fahri, sebagai tokoh utamanya. Dengan begitu, semua peristiwa yang terjadi sangat melibatkan emosi pembaca. Cerita dibagi dalam 33 bab. Tiap bab mengisahkan pengalaman demi pengalaman tokoh utama yang kadang-kadang romantis, kadang-kadang dramatis. Pengalaman demi pengalaman Fahri yang setiap hari penuh kejutan, menimbulkan kepenasaranan pembaca untuk membaca bab selanjutnya. Dan yang tak kalah pentingnya, novel ini mampu menambah wawasan pembacanya tentang banyak hal, karena sarat informasi dan deskripsi yang detail dan panjang lebar. Pembaca diajak mengenal lebih dekat negeri para Nabi itu, dengan watak para manusianya, kebiasaannya, budayanya, dan keadaan alamnya. Kita juga akan mendulang pengetahuan tentang Islam, hidup keseharian yang ideal menurut Islam, tanpa merasa bahwa kita sedang digurui oleh sebuah novel.
Yang paling menggoreskan kesan yang mendalam di setiap benak pembaca adalah jalinan kisah cinta yang lembut dan romantis antara tokoh utama dengan wanita yang dia cintai maupun wanita yang pernah dia sukai. Hadir empat orang wanita dalam novel ini yang ikut menentukan jalan cerita. Posisi keempat wanita tersebut sangat mempengaruhi kehidupan pribadi tokoh utama. Wanita pertama bernama Maria, dia tetangga satu flat, seorang Kristen Koptik yang diam-diam menaruh hati pada tokoh utama. Di akhir cerita, karena menderita sakit kejiwaan yang parah sampai koma, Maria dinikahi sebagai istri kedua oleh tokoh utama di rumah sakit, demi kesembuhannya. Semua itu atas saran istri pertama Fahri, Aisha. Belum sempat menikmati bahagianya berumah tangga dengan pujaan hatinya, Maria sudah harus menghadap Yang Maha Kuasa. Wanita kedua adalah Aisha, gadis bercadar ini berdarah Palestina-Jerman. Aisha dengan Fahri saling kenal secara tak sengaja di sebuah metro, dan ternyata akhirnya berjodoh. Nourma, wanita ketiga, dikenal Fahri karena kekejaman ayahnya yang selalu menyiksanya setiap hari. Sebagai tetangga satu flat, Fahri tidak tega melihat dia setiap hari menderita karena disiksa, lantas berniat menolong membebaskan gadis itu dari segala macam siksaan dari keluarganya dengan meminta bantuan Maria. Nourma pun jatuh cinta kepadanya. Wanita keempat adalah Nurul, mahasiswi Al Azhar asal Indonesia, yang juga sudah lama menaruh hati pada Fahri. Karena cintanya yang terpendam itulah, dia tidak berhasil menjadi istri tokoh utama, meskipun Fahri sempat suka padanya, dan ketika sudah terlambat untuk mengungkapkan perasaannya, Nurul menawarkan diri ingin menjadi istri kedua Fahri.
Yang lebih menarik dari novel ini adalah keteguhan pengarang dalam menggambarkan watak tokoh utama. Fahri, seorang Indonesia yang cerdas, ulet, rendah hati, bersahaja, disiplin dalam menjalani hidup, mempunyai etos kerja yang tinggi, dan istiqomah. Pengarang seolah-olah ingin menepis kesan negatif yang sudah terlanjur terbentuk dalam benak bangsa lain tentang watak orang Indonesia.
Di akhir cerita pembaca akan mengalami emosi yang mengharubiru, tatkala Fahri difitnah oleh Nourma bahwa Fahri telah memperkosanya sampai hamil, sehingga masuk penjara. Dengan berbagai upaya dan ketawakalan yang luar biasa akhirnya hidup pelaku utama berakhir dengan bahagia.
Penulis hampir tidak melihat kekurangan novel ini. Bila diibaratkan makanan, novel ini adalah hidangan lezat dan bergizi. Setiap orang yang mencicipinya insya Allah akan kebagian berkahnya.
Disaat kita dibanjiri oleh bacaan-bacaan yang menggiring kita untuk menjadi pemeluk Islam Liberal, novel ini menawarkan satu solusi, bahwa kehidupan muslim yang ideal adalah kehidupan muslim yang berpijak pada Al Qur’an dan Sunnah.
Selamat mendulang hikmah karena telah membaca “Ayat-ayat Cinta”. ***

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://pamanahrasa.blogsome.com/2006/09/15/ayat-ayat-cinta-2/trackback/

  1. Dengarkan perbincangan Kang Abik mengenai buku terbarunya Ketika Cinta Bertasbih jilid pertama di www.asepsetiawan.com

    Comment by Asep — February 15, 2008 @ 2:51 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.