Etika Berbahasa Berlaku di Mana-mana

Oleh Popon Saadah
Bahasa adalah anugerah yang tak terhingga yang dilimpahkan Allah Yang Maha Kuasa untuk manusia. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya bila manusia hidup di dunia ini tanpa dilengkapi dengan perangkat inti komunikasi tersebut. Bisa jadi akan timbul kebuntuan berkomunikasi dalam segala lini kehidupan. Oleh karena itu sangat disayangkan bila umat manusia menyia-nyiakan atau menyalah gunakan bahasa yang telah melekat erat pada diri dan kehidupannya.
Dalam kenyataanya memang ada kelompok manusia yang mensyukuri dan ada pula yang menyia-nyiakan anugerah tersebut. Umat manusia yang mensyukuri hadirnya bahasa dalam hidupnya adalah manusia yang menggunakan bahasanya sebagaimana mestinya, pandai menempatkan bahasanya sesuai situasi dan kondisi sampai kepada meneliti, mempelajari, serta menciptakan teori dan rumusan bahasa untuk kepentingan manusia itu sendiri. Maka lahirlah apa yang dinamakan kamus, teori tentang tatabahasa sebuah bahasa, kumpulan peribahasa, teori seluk beluk dan ragam bahasa, dan sebagainya. Semua itu diciptakan manusia untuk kemaslahatan umat dalam hal berkomunikasi dengan sesamanya.
Bagaimana dengan kelompok manusia yang menyia-nyiakan bahasa yang sudah terlanjur dikuasainya? Mereka adalah golongan orang-orang yang tak mau terikat oleh aturan berbahasa maupun situasi dan kondisi di mana bahasa itu sedang digunakan. Mereka tak mau perpayah-payah memikirkan etika berbahasa. Padahal etika berbahasa itu berlaku di mana-mana, di forum tidak resmi apalagi yang resmi, di lingkungan tidak formal apalagi yang formal, di dunia nyata maupun dunia maya (cyber). Kecuali pada ruang yang sangat pribadi.
Ungkapan “Bahasa menunjukkan bangsa” itu adalah benar, meskipun untuk jaman globalisasi ini tidak sepenuhnya benar. Cuma menurut hemat penulis, bahasa menunjukan kepribadian itu benar adanya. Seseorang yang hanya berbicara di kala dia sangat perlu untuk mengungkapkan isi hatinya adalah tipe orang yang hati-hati dan bijaksana. Sebab pada umumnya orang yang terlalu banyak bicara serta pembicaraannya ngelantur ke mana-mana hanya akan membunuh waktu dan malah ujung-ujungnya bisa berkibat fatal yaitu bisa terjebak kepada topik pergunjingan atau bahkan menyakiti hati lawan bicara.
Lalu bagaimana semestinya dengan bahasa yang digunakan di jejaring sosial semacam Facebook? Hal itu tinggal bertanya saja pada diri kita sendiri, mau dibuat imej seperti apa diri kita ini? Bila kita merasa tak peduli pada orang lain tentang penilaian mereka pada diri kita, berbuatlah sekehendak hati, dengan cara melempar status asal-asalan dan tak bermakna, menyebar komentar yang bepotensi menyakiti hati orang lain, mem-posting gambar yang tak sedap dipandang mata, dan lain sebagainya. Hanya saja perlu diingat, ungkapan “Mulutmu harimaumu” sangat berlaku di dunia ini. ”Mulutmu harimaumu” bisa diterjemahkan: status dan komentarmu akan menerkam dirimu sendiri. Oleh karena itu jangan pernah takut bila kita mendapat komentar yang tidak pantas pada status kita, komentarnya akan berbalik menusuk ulu hatinya sendiri. Disadari atau tidak. Dan orang lain akan menilai bahwa pribadi si komentator itu tidaklah jauh dari komentarnya sendiri. Dengan demikian, akan muncul pula ungkapan, “Bila ingin dihargai orang lain hargailah terlebih dahulu orang lain”.
Terakhir, pesan saya untuk sahabat semua, gunakanlah etika berbahasa di mana-mana.





PAMANAHRASA