Melaju dengan Kencang

October 28, 2010

Etika Berbahasa Berlaku di Mana-mana

Filed under: Opini Pribadi - pamanahrasa @ 12:33 pm

Oleh Popon Saadah

Bahasa adalah anugerah yang tak terhingga yang dilimpahkan Allah Yang Maha Kuasa untuk manusia. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya bila manusia hidup di dunia ini tanpa dilengkapi dengan perangkat inti komunikasi tersebut. Bisa jadi akan timbul kebuntuan berkomunikasi dalam segala lini kehidupan. Oleh karena itu sangat disayangkan bila umat manusia menyia-nyiakan atau menyalah gunakan bahasa yang telah melekat erat pada diri dan kehidupannya.

Dalam kenyataanya memang ada kelompok manusia yang mensyukuri dan ada pula yang menyia-nyiakan anugerah tersebut. Umat manusia yang mensyukuri hadirnya bahasa dalam hidupnya adalah manusia yang menggunakan bahasanya sebagaimana mestinya, pandai menempatkan bahasanya sesuai situasi dan kondisi sampai kepada meneliti, mempelajari, serta menciptakan teori dan rumusan bahasa untuk kepentingan manusia itu sendiri. Maka lahirlah apa yang dinamakan kamus, teori tentang tatabahasa sebuah bahasa, kumpulan peribahasa, teori seluk beluk dan ragam bahasa, dan sebagainya. Semua itu diciptakan manusia untuk kemaslahatan umat dalam hal berkomunikasi dengan sesamanya.

Bagaimana dengan kelompok manusia yang menyia-nyiakan bahasa yang sudah terlanjur dikuasainya? Mereka adalah golongan orang-orang yang tak mau terikat oleh aturan berbahasa maupun situasi dan kondisi di mana bahasa itu sedang digunakan. Mereka tak mau perpayah-payah memikirkan etika berbahasa. Padahal etika berbahasa itu berlaku di mana-mana, di forum tidak resmi apalagi yang resmi, di lingkungan tidak formal apalagi yang formal, di dunia nyata maupun dunia maya (cyber). Kecuali pada ruang yang sangat pribadi.

Ungkapan “Bahasa menunjukkan bangsa” itu adalah benar, meskipun untuk jaman globalisasi ini tidak sepenuhnya benar. Cuma menurut hemat penulis, bahasa menunjukan kepribadian itu benar adanya. Seseorang yang hanya berbicara di kala dia sangat perlu untuk mengungkapkan isi hatinya adalah tipe orang yang hati-hati dan bijaksana. Sebab pada umumnya orang yang terlalu banyak bicara serta pembicaraannya ngelantur ke mana-mana hanya akan membunuh waktu dan malah ujung-ujungnya bisa berkibat fatal yaitu bisa terjebak kepada topik pergunjingan atau bahkan menyakiti hati lawan bicara.

Lalu bagaimana semestinya dengan bahasa yang digunakan di jejaring sosial semacam Facebook? Hal itu tinggal bertanya saja pada diri kita sendiri, mau dibuat imej seperti apa diri kita ini? Bila kita merasa tak peduli pada orang lain tentang penilaian mereka pada diri kita, berbuatlah sekehendak hati, dengan cara melempar status asal-asalan dan tak bermakna, menyebar komentar yang bepotensi menyakiti hati orang lain, mem-posting gambar yang tak sedap dipandang mata, dan lain sebagainya. Hanya saja perlu diingat, ungkapan “Mulutmu harimaumu” sangat berlaku di dunia ini. ”Mulutmu harimaumu” bisa diterjemahkan: status dan komentarmu akan menerkam dirimu sendiri. Oleh karena itu jangan pernah takut bila kita mendapat komentar yang tidak pantas pada status kita, komentarnya akan berbalik menusuk ulu hatinya sendiri. Disadari atau tidak. Dan orang lain akan menilai bahwa pribadi si komentator itu tidaklah jauh dari komentarnya sendiri. Dengan demikian, akan muncul pula ungkapan, “Bila ingin dihargai orang lain hargailah terlebih dahulu orang lain”.

Terakhir, pesan saya untuk sahabat semua, gunakanlah etika berbahasa di mana-mana.

July 13, 2009

Saat Bersama Sesosok Malaikat

Filed under: Uncategorized, Kreasi Puisi - pamanahrasa @ 1:34 am

Satu hari dari serpihan seribu mimpi
aku bertemu denganmu
di sebuah tempat menurut kata sepakat
berbingkai sore menuju malam
bertirai air yang tercurah lebat dari langit
hingga kita berdua terjebak terperangkap
di antara ruang dan irama merdu gemuruh hujan

Dua gelas coklat hangat
tak mampu membuyarkan pikiranku tentangmu
pada jarak yang teramat dekat
dengan leluasa aku menguliti wujudmu yang telanjang
hingga tak sadarkan diri
terbius aroma sedap keringat dari tubuhmu

Dalam kehilangan ingatanku dirampas pesonamu
hati begitu berharap
jarum jam bergulir merayap
agar diri bisa lebih menghayati kehadiran
sesosok malaikat yang tengah melebarkan sayap
sebagai tanda merengkuhku dalam gelap

Dan Sang Waktu
merubah semua ini menjadi candu!

April 21, 2009

Potret Hari Ini

Filed under: Focus - pamanahrasa @ 1:48 am


Murung


Mawar di Tengah Pasar


Astrajingga Mencoba Jadi Caleg

April 20, 2009

Mengendalikan Pasar, Mencari “Guru Negara”

Filed under: Artikel Tamu - pamanahrasa @ 4:31 am

Oleh Iwan Gunawan

22 Maret 2009 jam 17:43
“Kelangkaan bukan hanya disebabkan alam, tapi juga manusia.
Dan ilmu ekonomi tidak hanya bersangkut paut dengan alam sekelilingnya, tapi juga dengan selera konsumsi
manusia dan kesanggupannya berproduksi”
(Robert. L. Heilbroner; The Making of Economic Society)

Sistem ekonomi pasar yang diagungkan dapat membina rasionalitas, ternyata telah menciptakan bangsa ini semakin dekat dengan apa yang diangankan (desire) namun semakin jauh dari apa yang dibutuhkan (need). Memicu irasionalitas dalam berkonsumsi. Menciptakan gejolak melalui hadirnya benda-benda produk asing yang menawarkan pemuasan keinginan. Membiak melalui sentra-sentra perbelanjaan di desa dan di kota pelosok nusantara . Sementara kebutuhan bahan pokok kini langka di peredaran permintaan rakyat banyak .

Kelaparan tumbuh mengiris hati berdampingan dengan kemewahan yang menjadi . Gambaran ekonomi (anggaran rumah tangga) negara yang sedang timpang (defisit). Negara yang besar pasak daripada tiang. Pasak yang mewah dimiliki segelintir orang dimana tiang sandang, pangan dan papan hanya menjadi impian bagi para pengemis dan gelandangan. Bisakah pasar dikendalikan oleh negara yang menjadi rumah warganya ? Mungkinkah para gelandangan lapar kembali menghuni rumah tinggalnya ? Bisakah pasak-pasak kemewahan menegakkan kembali tiang-tiang rumah mereka yang kini hidup bergerombol di jalanan ? Dan dapatkah irasionalitas dalam pasar digeser oleh rasionalitas negara agar lahir kebijakan obyektif dimana orang banyak bisa hidup sejahtera ?

Konsumerisme kini tumbuh di dalam kehidupan pasar. Terdorong oleh pemenuhan keinginan yang melampaui dari apa yang dibutuhkan. Pemilikan benda-benda yang diangankan lebih memberikan kepuasan atas pemenuhan barang-barang pokok yang dibutuhkan. Bentuk keinginan berlebihan yang disebabkan tuntutan egoisme menuju realitas ekonomi yang sakit. Mengabaikan pemenuhan kebutuhan wajar dan kolektif bagi tumbuhnya ekonomi yang sehat. Tercetus oleh spontanitas iklan untuk meraih untung menggelembung. Mengorbankan tuntutan permanen atas barang-barang pokok yang dibutuhkan. Bentuk eksploitasi atas angan-angan konsumen yang menimbulkan banyak kefrustasian. Pasar melalui irasionalitas yang dikandungnya telah merusak organ ekonomi bangsa dengan menyumbat kemajuan penyaluran kebutuhan bagi rakyat yang belum sejahtera. (more…)

April 16, 2009

Dunia Replika Gajahku

Filed under: Focus - pamanahrasa @ 4:00 am


Gajah_Mungil


Gajah_Imut
(more…)

April 7, 2009

Salam Untukmu

Filed under: Kreasi Puisi - pamanahrasa @ 6:02 am

Di penghujung malam
aku mendekap bayanganmu dalam diam
memaknai benang emas pertemanan yang tlah tersulam
pada sudut-sudut hatiku yang tak lagi kelam

Kepadamu yang berhati pualam
melalui goresan kalam
kusampaikan salam….

March 31, 2009

Masjid Tangguh Di Situgintung

Filed under: Focus - pamanahrasa @ 7:17 am

Gambar: Kiriman Teman

February 8, 2009

Akhirnya Kutemukan Juga…

Filed under: Kuliner - pamanahrasa @ 12:31 pm

Petualanganku berbulan-bulan berburu nasi tutug oncom di Kota Bandung berakhir pada hari ini. Justru saya mendapatkan makanan kesukaan ini di rumah makan yang berlokasi di Cimahi, dekat dengan tempat tinggalku, tepatnya di jalan Gandawijaya. Rupanya rumah makan yang terbilang baru ini ingin memuaskan pelanggannya dari berbagai kalangan dan etnis. Terlihat dari menu yang tersedia begitu beragam. Selain tersedia masakan khas sunda, juga ada masakan mancanegara, termasuk hidangan ala Mandarin.

(more…)

February 2, 2009

Gambar di Perjalanan Wisata

Filed under: Focus - pamanahrasa @ 3:29 am


Menembus Kebumen


Kebumen dari dalam bis

(more…)

January 19, 2009

Warung Karedok Leunca

Filed under: Kuliner - pamanahrasa @ 4:18 am

Warung nasi Bu Imas adalah warung nasi pavoritku, sebab di sinilah makanan serba khas Sunda dihidangkan. Mulanya, saya tahu tentang tempat ini dari seorang sahabat, ketika suatu hari saya bersamanya berkunjung untuk makan siang di warung ini. Setelah satu kali kunjungan itu saya jadi ketagihan.
Yang menjadi daya tarik warung ini, selain masakannya yang asyik di lidah sampai ke tenggorokan, juga cara penyajiannya. Para tamu tidak duduk di kursi dan meja terpisah, tapi duduk bersama-sama mengelilingi meja panjang tempat berbagai makanan dihidangkan. Dengan begitu, suasana dan acara makan jadi ramai dan terasa meriah karena makan berjamaah (balakècrakan), meskipun pada umumnya antara pengunjung yang satu dengan yang lainnya tidak saling mengenal. (more…)